DARI KUTHAGEDHE, MATARAM ISLAM BERJAYA (4) – Senopati Membuat Mataram Makmur

Mendengar khabar tentang meninggalnya Ki Ageng Pemanahan dari Ki Jurumertani, Sultan Hadiwijaya sedih hati, lalu katanya: “Kakak Jurumartani, sebagai ganti dari penghuni Mataram ialah Ngabehi Loring Pasar dan harap dimufakati dengan nama Pangeran Haryo Mataram Senopati Pupuh”.

KI JURUMARTANI menyanggupi lalu mohon ijin kembali ke Mataran Kotagede, peristiwa ini terjadi pada tahun 1540. Lalu Pangeran Haryo Mataram diangkat pada tahun Dal 1551 bergelar Kanjeng Panembahan Senopati ing Ngalogo yang menguasai tanah Jawa. Kemudian menurunkan raja-raja Surakarta dan Yogyakarta, demikian pula para Bupati di pantai-pantai Jawa hingga sekarang.

Kanjeng Panembahan Senopati memegang kekuasaan kerajaan 13 tahun lamanya. Sesudah gering kemudian mangkat, pada hari Jumat Pon bulan Suro tahun Wawu 1563. Dimakamkan di sebelah barat Masjid di bawah ayahandanya.

Selanjutnya putranya yang menggantikan dengan gelar Kanjeng Susuhunan Prabu Hanyokrowati. Penobatannya dalam bulan yang bersamaan dengan wafatnya Kanjeng Panembahan Senopati.

MERAPI-JB SANTOSO Panembahan Seda Krapyak dimakamakan di kompleks ini.
MERAPI-JB SANTOSO
Panembahan Seda Krapyak dimakamakan di kompleks ini.

Pada suatu hari, Kanjeng Susuhunan pergi berburu rusa ke hutan. Dengan tiada terasa telah berpisah dengan para pengantar dan pengawalnya, kemudian beliau diserang punggungnya oleh rusa dan beliau jatuh ke tanah. Sinuhun diangkat ke istana dan ia perintahkan memanggil kakanda Panembahan Purboyo.

Sinuhun bersabda, “Kakanda, andaikata kami sampai meninggal, oleh karena Gusti Hadipati sedang bepergian, putramu Martopuro harap ditetapkan sebagai wakil menguasai Negeri Mataram. Amanat tersebut disanggupi, Sinuhun terkenal dengan gelar Sinuhun Seda Krapyak. Beliau mangkat pada bulan Besar, tuhan Jimawal 1565 dan dimakamkan di sebelah bawah makan ayahandanya, Panembahan Senopati.

Di bawah kepemimpinan Senopati yang bijaksana desa itu tumbuh menjadi kota yang semakin ramai dan makmur, hingga disebut Kuthagedhe atau Kotagede (kota besar). Senopati lalu membangun benteng dalam (cepuri) yang mengelilingi kraton dan benteng luar (baluwarti) yang mengelilingi wilayah kota seluas kurang lebih 200 ha. Sisi luar kedua benteng ini juga dilengkapi dengan parit pertahanan yang lebar seperti sungai. (-dari berbagai sumber) (JB Santoso/Jbo)

 

Pin It on Pinterest

Read previous post:
CERITA MISTERI – Tubuh Wanita Ditanam di Tembok

GEDUNG ini bisa dibilang sebagai paling angker di Inggeris. Tak salah kalau disebut sebagai rumah hantu. Bentuk bangunannya bergaya Victorian.

Close