DARI KUTHAGEDHE, MATARAM ISLAM BERJAYA (3) – Mataram Daerah Bebas Pajak

Sultan Hadiwijaya, raja Pajang kemudian memberikan hadiah tanah Mataram dan Pati. Ki Pamanahan yang merasa lebih tua mengalah memilih Mataram yang masih berupa hutan lebat bernama Alas Mentaok, sedangkan Ki Penjawi mandapat daerah Pati yang saat itu sudah berwujud kota.

BUMI Mataram adalah bekas kerajaan kuno yang runtuh tahun 929. Seiring berjalannya waktu, daerah ini semakin sepi sampai akhirnya tertutup hutan lebat. Masyarakat menyebut hutan yang menutupi Mataram dengan nama Alas Mentaok.

Setelah kematian Aryo Penangsang tahun 1549, Sultan Hadiwijaya dilantik menjadi raja baru penerus Kesultanan Demak. Pusat kerajaan dipindah ke Pajang, di daerah pedalaman. Pada acara pelantikan, Sunan Prapen cucu (Sunan Giri) meramalkan kelak di Mataram akan berdiri sebuah kerajaan lebih besar daripada Pajang.

Ramalan tersebut membuat Sultan Hadiwijaya resah. Sehingga penyerahan Alas Mentaok kepada Ki Pamanahan ditunda-tunda sampai tahun 1556. Hal ini diketahui oleh Sunan Kalijaga, guru mereka. Keduanya pun dipertemukan. Dengan disaksikan Sunan Kalijaga, Ki Pamanahan bersumpah selalu setia kepada Sultan Hadiwijaya.

Maka sejak tahun 1556 itu, Ki Pamanahan sekeluarga, termasuk Ki Juru Martani, pindah ke Hutan Mentaok, yang kemudian dibuka menjadi desa Mataram. Ki Pamanahan menjadi kepala desa pertama bergelar Ki Ageng Mataram. Adapun status desa Mataram adalah desa perdikan atau daerah bebas pajak, di mana Ki Ageng Mataram hanya punya kewajiban menghadap saja.
Sejak tahun 1556 Ki Pemanahan sekeluarga, termasuk Ki Juru Mertani pindah ke Hutan Mentaok yang kemudian dibuka menjadi desa Mataram, dan Ki Ageng Pemanahan kemudian lazim disebut dengan Ki Ageng Mataram. Desa kecil yang didirikan Ki Gede Pemanahan di hutan itu mulai makmur.

MERAPI-JB SANTOSO Kerajaan Mataram Islam, hadiah dari Sultan Pajang.
MERAPI-JB SANTOSO
Kerajaan Mataram Islam, hadiah dari Sultan Pajang.

Waktu sudah berjalan sekian lama, karena usianya sudah uzur, Ki Ageng Mataram gering lalu mangkat pada hari Senin Pon 27 Ruwah tahun Je 1533 (1584 M). Dimakamkan di sebelah barat Istana Mataram di Kotagede, Yogyakarta. Sementara itu, Ki Jurumartani pergi ke negeri Pajang menghadapkan putra Ki Ageng Mataram. Sinuhun lalu bercengkerama dengan Ki Jurumartani memberitahukan tentang mangkatnya Ki Ageng Mataram, Sinuhun terkejut hatinya, lalu katanya: “Kakak Jurumartani, sebagai ganti dari penghuni Mataram ialah Ngabehi Loring Pasar dan harap dimufakati dengan nama Pangeran Haryo Mataram Senopati Pupuh”. (- dari berbagai sumber) (JB Santoso/Jbo)

 

 

Read previous post:
DIJAMU PERSIWA DI KUNINGAN – Strategi PSS Rentan Macet

  KUNINGAN (MERAPI) - PSS Sleman bertandang ke Stadion Mashud Wisnu Saputra Kuningan menghadapi Persiwa Wamena, Senin (30/7) sore nanti

Close