MENELISIK KISAH SYEH BELA BELU DAN DAMIAKING (2) – Akhirnya Bersedia Memeluk Islam

MERAPI-ALBES SARTONO Tempat istirahat di makam Syeh Bela Belu.
MERAPI-ALBES SARTONO
Tempat istirahat di makam Syeh Bela Belu.

Ada cerita menyebutkan kepergian Jaka Bandem disertai saudaranya bernama Damiaking, tapi ada pula yang mengatakan bahwa Jaka Bandem dan Damiaking bertemu di kawasan itu. Sekalipun demikian, disebutkan bahwa ia memang merupakan orang yang gemar bertapa dan menimba serta menyebarkan ilmunya.

NAMUN praktik dan perilaku hidup Damiaking berbeda dengan Jaka Bandem dalam mencapai kesempurnaan hidup. Oleh karena itu pula mereka sering terlibat dialog dan perdebatan tentang keyakinan.

“Kamu harus menjalani hidup dan bertapa seperti aku, mengurangi makan dan tidur. Itu cara menuju kesempurnaan. Tidak seperti kamu yang dalam keseharian mulai dari pagi hari hingga larut malam hanya mengurusi soal makan, makan, dan makan. Bagaimana kamu dapat mencapai kesempurnaan jika hidupmu hanya difokuskan untuk makan belaka ?” demikian tegur dan pertanyaan Damiaking pada suatu waktu.

“Apa pun itu, bagiku tidak ada kekuatan dan karunia yang lebih besar dari kekuatan dan karunia Tuhan itu sendiri,” jawab Jaka Bandhem.

“Tapi jika kamu tak mengurangi makan dan minum atau berpuasa seperti yang aku lakukan, bagaimana kamu akan beroleh karunia dan kekuatan ?”

“Aku menyerahkan sepenuhnya kepada belas kasih sayang Tuhan.”

Dalam kisah ini disebutkan ternyata cara Jaka Bandem yang banyak diterima karena untuk menuju kesempurnaan sejati adalah dengan pasrah total dan percaya penuh pada belas kasih Tuhan. Versi lain menyebutkan setelah Jaka Bandem, Damiaking, dan pengikutnya bermukim di Gunung Banteng datanglah Syeh Maulana Maghribi, utusan Raden Patah untuk menyebarkan Islam di wilayah Pantai Selatan. Jika Jaka Bandem dan Damiaking berdiam di Bukit Banteng, Syeh Maulana Maghribi berdiam di Gunung Sentana yang masih rangkaian pegunungan di Parangtritis.

Dari tempatnya bermukim Syeh Maulana Maghribi mulai mengajarkan Islam dan berharap Jaka Bandem bisa memeluk agama Islam. Selaku tetua pedukuhan dengan pengikut yang banyak tentu saja jika Jaka Bandem dan Damiaking kemudian memeluk agama Islam, maka tentu akan diikuti oleh pengikutnya.

Dengan berbagai dialog dan pendekatan yang dilakukan oleh Syeh Maulana Maghribi akhirnya Jaka Bandem dan Damiaking memeluk agama Islam. Jaka Bandem demikian getol belajar agama pada Syeh Maulana Maghribi bahkan dikatakan bahwa kemanapun Syeh Maulana Maghribi pergi Jaka Bandem selalu mengikutinya.

Oleh orang Jawa sikap Jaka Bandem yang demikian ini dikatakan sebagai mela-melu. Diduga dari kata mela-belu ini kemudian ia mendapatkan nama Syeh Bela Belu sebagai tanda resmi ia memeluk agama Islam. Hal yang sama juga dialami oleh Damiaking yang kemudian menjadi bernama Syeh Damiaking. (Albes Sartono/Jbo)

 

Pin It on Pinterest

Read previous post:
CERITA MISTERI – Nenek Korban Longsor Bangkit

BELAKANGAN musibah tanah longsor terjadi di mana-mana. Hampir semuanya membawa korban jiwa. Bisa dimaklumi karena hujan terjadi hampir setiap hari.

Close