MENELISIK KISAH SYEH BELA BELU DAN DAMIAKING (1) – Mengembara Menyusur Pantai Selatan

MERAPI-ALBES SARTONO Kompleks makam Syeh Bela Belu dan Damiaking.
MERAPI-ALBES SARTONO
Kompleks makam Syeh Bela Belu dan Damiaking.

Dari sekian petilasan atau makam tokoh-tokoh penting yang ada di perbukitan Parangtritis, Makam Syeh Bela Belu dan Damiaking merupakan salah satunya. Makam ini cukup terkenal di kawasan itu dan hingga kini menjadi salah satu objek kunjungan wisata spiritual atau peziarahan.

MAKAM tersebut berada di puncak perbukitan yang seolah membentengi deburan ombak Pantai Parangtritis yang menjadi pemisah garis pantai Samudera Indonesia dengan aliran Sungai Opak. Persisnya terletak di puncak Bukit Pemancingan, Dusun Pemancingan, Kelurahan Parangtritis, Kretek, Bantul, Yogyakarta.

Menurut sumber setempat Syeh Bela Belu bernama kecil Jaka Bandem, salah satu putera Prabu Brawijaya terakhir dari Majapahit. Pada akhir masa kejayaannya, Majapahit terlibat perang saudara berlarut-larut yang disebut Perang Paregreg.

Seiring dengan hal itu pengaruh Islam mulai masuk dan menguat di Majapahit. Banyak punggawa dan kawula Majapahit menyingkir akibat huru-hara, sebagian kawula juga belum bersedia memeluk agama baru. Jaka Bandem bersama pengikutnya keluar kerajaan mencari daerah yang dianggap aman dan tenang. Mereka menyisir jalur pantai selatan menuju barat karena merupakan kawasan yang tidak pernah dirambah orang. Kawasan ini seperti kawasan “jin buang anak” atau kawasan yang asing dan menakutkan. Perjalanan itu sampai kawasan Parangtritis dalam waktu yang tidak singkat. Setiba di kawasan Parangtritis ini Jaka Bandem merasa tentram, tenang dan tersembunyi dari keramaian.

Mulailah Syeh Bela Belu membuat padepokan di Bukit Pemancingan dan membuka lahan untuk ditanami padi dan berbagai tanaman pangan. Para pengikut membantunya dengan antusias sehingga lambat laun tempat yang dibuka itu menjadi pedukuhan kecil dengan penduduk relatif jarang.

Meskipun demikian, orang-orang akhirnya mengetahui di tempat itu ada seorang tokoh besar yang memiliki padepokan, Maka orang-orang pun berdatangan ke tempat tersebut untuk ikut bermukim di Pemancingan sekaligus belajar bertani dan belajar ilmu kebatinan, beladiri dan aktivitas lain pada Syeh Bela Belu.

Salah satu versi menyatakan bahwa kepergian Jaka Bandem dari Majapahit disertai kakaknya bernama Damiaking. Versi lain menyatakan, keduanya dipertemukan di kawasan Parangtritis kemudian belajar tentang segala macam ilmu bersama-sama.

Namun Damiaking berusia lebih tua ketimbang Jaka Bandem sehingga secara otomatis ia menjadi senior Jaka Bandem. Pada versi ini tidak diketahui dengan pasti dari mana sesungguhnya asal-usul Damiaking ini. Mungkin juga asal-usulnya memang tidak diketahui dengan pasti. (Albes Sartono/Jbo)

 

Read previous post:
HUT KE-187 KABUPATEN BANTUL-Tingkatkan Pelayanan Publik, Kebut Penataan Kawasan Pesisir

BANTUL (MERAPI)-  Hari ini Jumat (20/7), Kabupaten Bantul genap berusia 187 tahun. Usia yang bukan muda lagi bagi kabupaten yang

Close