Hobi Sabung Ayam

MENYABUNG ayam menjadi kesukaan Walidi (bukan nama sebenarnya) sejak masih remaja. Bahkan boleh dikata sudah menjadi hobi. Sehari-hari yang dibahas dan dilakukannya tak pernah lepas dari masalah ayam jago. Bukan saja di antara sesama penggemar sabung ayam, namun juga di lingkungan kampung maupun tempatnya bekerja di sebuah bank swasta.

Padahal di lingkungan keluarganya sendiri tidak ada yang suka dengan sabung ayam. Bahkan saudara-saudaranya termasuk orang yang membenci dan menentang, setiap kali ada upaya masyarakat yang mengadakan sabung ayam.

Toh demikian, Walidi tak menghiraukannya. Seakan urusan sabung ayam sudah mendarah daging, sehingga apapun tak bisa memisahkannya.

Semua itu berawal dari Walidi kecil. Saat usianya masih balita, di sudut kampungnya menjadi arena sabung ayam. Walidi yang masih punya sifat selalu pengin tahu, suatu ketika menyelusup di antara orang dewasa yang berkerumun mengelilingi arena sabung ayam.

Rupanya Walidi senang melihat semua itu. Ya adu ayamnya, ya suasana sekitarnya, dimana orang riuh rendah bersorak sorai menyaksikan dua ayam jago saling menyakiti. Hampir setiap kali ada acara sabung ayam, maka Walidi pun hadir.

Hal ini rupanya tak diketahui kedua orang tuanya, yang sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Ibu Walidi bekerja sebagai pembantu rumah tangga, sementara ayahnya menjadi karyawan di sebuah pabrik. Walidi kecil pun berkembang tanpa pengawasan. Sementara yang penting bagi orang tuanya, Walidi tidak rewel dan minta yang macam-macam.

Tak disadari bahwa kesukaan Walidi tersebut telah membentuk karakternya di masa dewasa kelak. Dan itu sudah mulai tampak ketika Walidi menginjak usia remaja. Masa yang seharusnya ia habiskan untuk bermain dengan teman-temannya, justru dihabiskannya untuk urusan sabung ayam. Dari sebagai penonton, Walidi mulai ikut berperan aktif menjadi peserta.

Ia minta uang untuk membeli ayam anakan untuk dipelihara. Walidi rupanya sudah mempelajari juga bagaimana merawat seekor bibit ayam untuk dijadikan sebagai ayam aduan yang tangguh. Padahal usianya masih remaja, sementara lingkungannya kebanyakan orang-orang yang sudah dewasa.

Perumpamaan teman yang baik dan teman yang jelek bagaikan pemilik minyak wangi dan tukang besi. Terhadap pemilik minyak wangi, kamu dapat menikmati minyak wangi dengan cara membeli kepadanya atau minimal mencium aromanya yang bagus. Sedangkan terhadap tukang besi, mungkin badan atau pakaianmu terbakar atau kamu mencium bau yang tidak sedap. (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Musa). (Bersambung)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
MERAPI-SAMENTO SIHONO Sejumlah kendaraan ringsek usai terjadi kecelakaan.
Sopir Ngantuk, Truk Tangki Sruduk Enam Mobil

SLEMAN (MERAPI)- Gara-gara sopir mengantuk, truk tangki menghantam enam kendaraan di depannya di simpang empat Dengung, Sleman, Rabu (20/6) pukul

Close