Melawan Orangtua Demi Cinta

image description

TIDAK biasanya Karman tidak pulang ke rumah tanpa memberi kabar pada istrinya. Tak heran jika Lastri merasa cemas, manakala mengetahui suaminya belum juga kelihatan, sampai anak-anaknya berangkat ke sekolah. Sudah dicoba menghubungi melalui hape, namun rupanya sengaja tidak diaktifkan oleh Karman.

Saat hapenya berdering, Lastri bergegas mengangkat. Tapi terlihat nomor yang menghubungi ternyata mertuanya, Pak Bowo. Ada rasa cemas saat ia menjawab nada panggilan tersebut.

“Assalamualaikum Pak.”
“Waalikumsalam, Lastri. Kamu baik-baik saja to nak?”
“Alhamdulillah sehat Pak. Ada apa Pak pagi-pagi telpon. Lastri jadi cemas.”
“Syukurlah kalau kamu sehat-sehat saja. Bapak tahu pasti kamu cemas, karena Karman belum pulang to.”

Ada rasa senang di hati Lastri, karena tahu berarti suaminya pulang ke rumah orang tuanya. Namun juga ada rasa kecewa, mengapa Karman sama sekali tidak memberi kabar, justru sekarang yang menelpon malah Pak Bowo.

“Pasti ada sesuatu,” kata Lastri dalam hati, yang dalam beberapa minggu terakhir dirinya memang sudah mencurigai suaminya menyembunyikan sesuatu.

Kabar miring tentang perselingkuhan suaminya juga sempat sampai ke telinganya, namun selama ini Lastri mencoba untuk mengabaikan. Ia masih percaya, suaminya adalah laki-laki yang bertanggung jawab. Kesetiaan adalah janji yang berulang kali diucapkan oleh Karman, dan lantaran itu pula membuat Lastri nekad mempertahankan rasa cintanya dan bersedia menikah sekalipun ditentang oleh orangtuanya.

Hubungan Karman dengan Lastri terjalin penuh dengan lika-liku. Mereka berpacaran sejak masih duduk di bangku SMA. Karena itu pula, orang tua Lastri sempat tidak setuju. Mereka berharap putrinya konsentrasi dulu untuk sekolahnya hingga mencapai gelar sarjana.

“Apapun yang terjadi, aku tetap mencintaimu sayang. Tidak ada yang bisa menghalangi cinta kita, termasuk kedua orang tuamu. Sampai mati cintaku tak akan padam.”
Kata-kata cinta Karman itu selalu terngiang di telinga Lastri, sehingga hatinya luluh dan mengabaikan semua larangan orang tuanya. Hujan rayuan maut membuat Lastri mabuk cinta dan rela melakukan perbuatan terlarang. Sampai akhirnya orang tua Lastri mengalah dan terpaksa bersedia menikahkan mereka lantaran putrinya itu terlanjur hamil duluan.
“Halloo…halloo…kok diam saja Lastri,” suara Pak Bowo di hape menyadarkan lamunan Lastri.
“Oooo…iya, maaf Pak. Ada apa ya Pak?”

“Saya hanya mau menyampaikan pesan suamimu. Dia tidak bisa ngomong langsung sama kamu, sekarang dia ada di rumah bapak. Katanya ia mau menenangkan pikiran dulu di sini, mau istirahat. Yang sabar ya nak.”

Lemas seluruh badan Lastri. Ia yakin pasti ada masalah besar yang tengah dihadapi suaminya, karena selama ini setiap ada persoalan pasti berkeluhkesahnya kepada dirinya. Bukan kepada orangtuanya. Bersambung)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Ingin Lari dari Kenyataan

DENGAN pikiran kusut, Karman meninggalkan rumah kos Sita. Waktu sudah larut malam, sehingga tidak berani pulang ke rumah. Mobilnya dijalankannya

Close