Mahmudin Peroleh Berkah Rawat Orangtua Sakit

KABAR mengagetkan diterima Mahmudin (semua nama disamarkan) lewat ponsel. Keluarganya mengabarkan jika ibunya jatuh sakit dan saat ini dirawat di rumah sakit. “Baik, aku akan segera pulang ke rumah. Aku cari bus terakhir,” kata Mahmudin lewat sambungan telepon.

Mahmudin adalah guru di sebuah pondok pesantren. Setelah lulus dari universitas Islam terkemuka, dia memilih mengabdikan diri di pondok pesantren. Disamping ingin dakwah, dari mengajar itu ia mendapatkan penghasilan tetap untuk membantu kehidupan ibu dan seorang adiknya di kampung.

“Kyai saya izin tidak mengajar selama satu minggu karena ibu saya sakit,” kata Mahmudin meminta izin kepada pimpinan pondok pesantren. Dia diizinkan pulang untuk menjenguk ibunya. Karena cerdas dan pandai transfer ilmu, banyak santri yang kecewa karena satu pekan tidak diajar oleh Mahmudin. “Nanti akan ada ustaz pengganti. Kasihan Ustaz Mahmudin, dia kepikiran ibunya terus,” kata Kyai Sabar, pimpinan pondok pesantren, ketika menggantikan kelas yang ditinggalkan.

Rupanya ada sesama rekan pengajar, seorang usatzah, yang iba dengan kondisi Mahmudin. Dia adalah Aisyah. Selama ini Aisyah menaruh hati kepada Mahmudin karena kesalehannya. Namun, karena perempuan, dia pun tak berani mengutarakan perasannya.

“Ustaz Mahmudin berapa lama izin pulang kampungnya?” tanya dia kepada Kyai Sabar.

“Kok tiba-tiba kamu menanyakan Mahmudin. Wah jangan-jangan ada sesuatu ini,” kata Kyai Sabar setengah bercanda.

Ustazah Aisyah pun tersipu malu, mukanya memerah. Melihat hal ini, Kyai Sabar pun sadar bahwa selama ini Ustazah Aisyah ada rasa dengan Ustaz Mahmudin. “Dia izin satu minggu, tapi nanti lihat kondisi ibunya terlebih dahulu,” kata Kyai Sabar.

Setelah satu minggu, Mahmudin tak kunjung pulang. Kabar terakhir, ibunya tidak bisa ditinggal karena kondisinya cukup parah. “Mari kita bersama-sama jenguk ke rumahnya,” ajak Kyai Sabar kepada ustaz dan ustazah pengajar pondok pesantren.

Setelah menempuh perjalanan selama 4 jam, akhirnya sampai di rumah Mahmudin. Rupanya ibunya terserang stroke dan harus dirawat karena tidak bisa apa-apa hanya rebahan di tempat tidur. “Saya izin cuti mengajar untuk merawat ibu saya. Kasihan kalau tidak ada yang merawat,” kata Mahmudin saat dijenguk rekan pengajar.

Melihat hal demikian, Ustazah Aisyah semakin jatuh hati dengan Mahmudin karena semangat merawat ibunya. Sepulang dari rumah Mahmudin, Aisyah pun mengutarakan hal tersebut kepada kyai. “Kalau kamu memang berkenan coba aku ajak bicara Mahmudin,” kata Kyai Sabar.

Dua hari berikutnya, Kyai Sabar kembali datang ke rumah Mahmudin. Ia pun berkata soal Ustazah Aisyah. “Saya sebenarnya juga suka dengan Aisyah. Tapi saya malu mengungkapkan. Sebab, kondisi keluarga saya yang hanya seperti ini,” kata Mahmudin.

Mahmudin lantas minta izin kepada ibunya untuk menikahi Aisyah. Rupanya ibunya sangat ingin melihat Mahmudin naik ke pelaminan. “Lamarlah Aisyah. Biar ibu sama adikmu dulu,” kata ibunya.

Mahmudin bergegas berangkat ke kediaman Aisyah dan mengutarakan ingin melamar Aisyah kepada kedua orangtuanya. “Kalau Aisyah mau, kita setuju saja,” kata orangtua Aisyah. Rupanya Aisyah langsung mengangguk tanda setuju.

Dua pekan berikutnya, pernikahan pun digelar secara sederhana. Mereka menikah di KUA dan dinyatakan sah secara agama dan negara. “Mas Mahmudin mengajar saja di pondok. Biar aku yang mengundurkan diri untuk merawat ibu di rumah,” kata Aisyah.

Mahmudin sangat terharu mendengar perkataan tersebut. Kyai Sabar pun setuju dengan catatan kelas yang ditinggal Aisyah digantikan oleh Mahmudin. Dia pun setuju.

Dengan kondisi seperti saat ini, Mahmudin bisa konsentrasi mengajar. Sementara ibunya ada yang mengurus di kampung. Pada hari Jumat, ia selalu pulang menjenguk keluarganya.

Tepat sekitar 3,5 bulan setelah menikah, Allah SWT memanggil ibunda Mahmudin, karena sakit strokenya memang parah. Ibunda Mahmudin meninggal usai Salat Subuh di rumahnya. Ibunda Mahmudin titip pesan lewat Aisyah agar Mahmudin sabar dalam mengarungi mahligai rumah tangga. “Ibu juga titip merawat Sari, adik Mas Mahmudin,” kata Aisyah kepada suaminya sesaat menjelang pemakaman.

Kini Mahmudin memboyong adiknya dan hidup bersama dengan istrinya tak jauh dari pondok pesantren. Keinginan kuat untuk merawat ibunya diganjar kebaikan dengan mendapatkan seorang istri yang salehah. Mahmudin sangat bersyukur atas karunia yang diberikan oleh Allah SWT. (Oin)

 

Read previous post:
Sedekah Merapi Kenang Erupsi 2010
Sedekah Merapi Kenang Erupsi 2010

CANGKRINGAN (MERAPI) - Dalam rangka mengenang kembali bencana alam erupsi Gunung Merapi, untuk pertama kalinya Asosiasi Jeep Wisata Lereng Merapi

Close