Jamu Empon-Empon Dikemas Modern

DEWASA ini, kesibukan masyarakat dalam menjalani aktivitas hariannya kerap berdampak negatif pada kesehatan badan. Lewat minuman kesehatan tradisional berupa jamu empon-empon, wirausaha perempuan dari Kulonprogo, Fahrunnissa (45), mengajak masyarakat menjaga kesehatan dengan kembali ke alam. Bahkan, perempuan yang akrab disapa Nissa ini menyajikan jamu empon-empon dalam kemasan praktis, yakni sachet dan botol.

Disambangi Merapi saat memamerkan produknya di Gedung Kaca Kompleks Pemkab Kulonprogo belum lama ini, Nissa bercerita mengenai perjalanan usahanya memproduksi jamu empon-empon. Awalnya, ia memperoleh pelatihan dari Pemda DIY melalui program pemberdayaan perempuan pada 2008.

“Saya tertarik mengikuti karena yang menjadi pembicara waktu itu adalah peramu jamu dari Keraton,” kata Nissa.

Tak ingin ilmu yang diperolehnya terbuang sia-sia, Nissa bergegas mempraktikkannya. Di kediamannya, RT 29 RW 13 Kepek Pendoworejo Girimulyo, ia mencoba memproduksi jamu empon-empon dengan menggunakan bahan baku dari lingkungan sekitar. Saat itu, beberapa jenis jamu empon-empon dibuatnya, mulai dari kunir asam, beras kencur, temu lawak dan sebagainya.

Seolah mendapat lampu hijau, produk jamu siap minum tersebut disukai banyak orang di sekitarnya. Nissa kemudian bertekad menjualnya secara berkeliling. Dua tahun ia menjadi penjual jamu gendong, hingga pada 2010, mulai berinovasi menciptakan jamu empon-empon dalam kemasan.

“Supaya praktis, bisa diminum di mana pun,” katanya.

Jamu empon-empon dengan kemasan botol plastik berukuran 30 ml itu, dijual Nissa dengan harga Rp 7.000. Cukup banyak pembeli yang berminat lantaran bisa dibawa ke manapun serta diminum tanpa harus mengandalkan gelas dari Nissa. Namun lagi-lagi, perempuan berjilbab ini enggan berpuas diri. Ia kembali berinovasi menciptakan jamu empon-empon kristal berbentuk serbuk yang dikemas dalam plastik. Jamu ini, bisa dinikmati pembeli kapanpun setelah diseduh sebelumnya. Jenis kristal juga lebih awet, bisa tahan hingga 10 bulan lebih.

“Sejak memproduksi jamu empon-empon kristal itulah, saya menggunakan label Mak Sruput,” imbuh Nissa.

Ia tidak menampik, pembuatan jamu empon-empon kristal memang lebih rumit. Bahan baku yang akan digunakan dipilah terlebih dahulu untuk memastikan kualitasnya. Setelah itu, dikupas kemudian dioven. Langkah selanjutnya, bahan baku tersebut diblender untuk diambil sarinya. Jika sudah, dicampur dengan gula lalu dimasak sampai mengkristal sebelum kemudian dikemas.

Meski pembuatannya lebih rumit, Nissa tak membanderol mahal produk kristalnya ini. Harganya hanya Rp 3.500 per sachet, bisa diseduh untuk sekali minum. Produk-produk Mak Sruput kemudian dipasarkan ke wilayah DIY. Nissa juga mengaku masih menerima pendampingan dari Dinas, terutama perihal kemasan.

Diakui Nissa, produknya belum bisa disebut sebagai obat, melainkan hanya berupa minuman kesehatan. Namun mengingat bahan dasar yang digunakan adalah empon-empon dari alam, ia meyakini cukup banyak khasiat yang terkandung di dalamnya, terutama untuk menjaga kesehatan badan.

“Saya berharap, ke depan usaha ini terus berkembang, bahkan bila memungkinkan bisa memiliki sentra atau pabrik. Dengan demikian, semakin banyak masyarakat yang mengonsumsi jamu untuk menjaga kesehatan,” katanya. (Unt)

Read previous post:
HP LUNCURKAN SPECTRE X360 SERI BARU

LAPTOP yang ringan kini semakin dicari di tengah perkembangan fleksibilitas bekerja di luar kantor. Namun tak sebatas ringan atau kecil,

Close