LIDAH BUAYA, NAMA GARANG TIDAK BERBAHAYA (2) – Lembutkan Kulit, Kuatkan Rambut

MERAPI-JB SANTOSO Yang dimanfaatkan daunnya.
MERAPI-JB SANTOSO
Yang dimanfaatkan daunnya.

KEHEBATAN si buruk rupa ini bukan hanya mitos, tapi merupakan fakta empirik yang terbukti sejak ribuan tahun lalu. Konon sudah dirujuk sejak zaman Cleopatra dan pada pengobatan tradisional China kuna. Fakta klinisnya ditunjukkan melalui berbagai penelitian yang dilakukan pakar herbal di zaman modern. Bahkan Aloe vera Linn dijuluki ‘herbal sejuta khasiat’.

Kenapa masyarakat cenderung merujuk back to nature, utamanya di bidang pengobatan? Sebab bukan hanya karena relatif lebih murah, tetapi juga karena obat herbal (yang alami) lebih aman ketimbang obat-obat kimia (yang terbuat dari bahan sintetis).

Obat-obat kimia dinilai menimbulkan ketergantungan, sehingga pemakaian obat-obat antibiotik tertentu dalam jangka panjang, justru menyebabkan kekebalan tubuh manusia menjadi menurun. Meski pengobatan modern telah membawa manfaat besar pada umat manusia, tapi juga mengundang berjibun masalah.

Dari ratusan herbal yang kita kenal, lidah buaya termasuk tanaman herbal paling laris di dunia. Konon, sejak zaman Cleopatra, lidah buaya sudah dirujuk sebagai bahan perawatan kecantikan. Begitu pula bangsa-bangsa kuna di Arab, Yunani, Romawi, India dan China, telah menggunakan lidah buaya untuk menyembuhkan berbagai gangguan kesehatan dan penyakit. Misal untuk menyembuhkan batuk, gangguan sistem pencernaan dan penyakit kulit. Pengalaman itulah yang kemudian jadi acuan hingga sekarang.

Berdasar penelitian laboratoris diketahui, kandungan aloemoedin dan aloebarbaloid dalam lidah buaya membantu membersihkan racun dan sampah yang yang menyumbat organ pencernaan.

Jika tak dibersihkan sampah-sampah makanan itu dapat menggangu sistem pencernaan seperti diare, susah buang air besar dan menghambat penyerapan nutrisi yang dibutuhkan tubuh.
Lidah buaya mengandung saponin yang memiliki kemampuan untuk membunuh kuman. Senyawa antrakinon dan kuinon yang dikandungnya berkhasiat sebagai antibiotik dan penghilang rasa sakit.

Tanaman ini juga dapat merangsang pertumbuhan sel-sel baru pada kulit. Dalam gel-nya terkandung lignin yang mampu menembus dan meresap ke dalam kulit, sehingga dapat menahan hilangnya cairan tubuh dari permukaan kulit, dan kulit menjadi tetap lembab.

Dari sekitar 240 spesies lidah buaya, hanya empat jenis yang dikenal mengandung nilai gizi tinggi. Di antara keempat jenis itu, barnadensis miller-lah yang paling baik, terutama bagian atasnya.

Di Indonesia, lidah buaya sudah digunakan nenek moyang sejak ratusan tahun lalu untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Warisan leluhur itu masih lestari hingga sekarang. Namun sejak dulu hingga sekarang, lidah buaya lebih sering dijadikan bahan kosmetika.

Jarang diketahui, gel lidah buaya lebih mudah diserap kulit empat kali lebih tinggi disbanding air. Lidah buaya dapat membantu pori-pori kulit membuka sehingga dapat menyerap zat gizi sekaligus menjaga kelembabannya. Dengan demikian tekstur kulit menjadi lembut. Itulah sebabnya lidah buaya banyak digunakan untuk merawat kulit.

Berikut rekomendasi dalam Cabe Puyang Warisan Nenek Moyang (Balai Pustaka, 1996) untuk perawatan kulit kepala agar rambut tidak mudah rontok. Caranya amat mudah, ambil 1 pelepah daun lidah buaya, dicuci bersih, hilangkan duri-durinya kemudian dibelah. Gunakan kulitnya di bagian dalam untuk menggosok kulit kepala di sela-sela rambut hingga merata. Lakukan cara ini sehari satu kali setelah mandi (keramas), kemudian dibungkus dengan handuk. (JB Santoso)

 

Read previous post:
LIDAH BUAYA, NAMA GARANG TAPI TAK BERBAHAYA (1) – Dibuat Jus Sembuhkan Ambein

ALOE VERA Linn – nama ini cukup kawentar karena kelebihannya sebagai bahan kosmetika. Performa lidah buaya memang tak menarik dan

Close