DIRJEN KEMENKES DR ANUNG SUGIHANTONO MKES: Antraks di Gunungkidul Sebagai KLB

MERAPI-BAMBANG PURWANTO  Kunker Dirjen P2P Kemenkes RI di Gunungkidul.
MERAPI-BAMBANG PURWANTO
Kunker Dirjen P2P Kemenkes RI di Gunungkidul.

WONOSARI (MERAPI) – Direktur Jenderal (Dirjen) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dr. Anung Sugihantono MKes menyatakan, serangan penyakit antraks pada hewan ternak di Kabupaten Gunungkidul yang telah berdampak penularan terhadap manusia dinyatakan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Karena itu meminta Pemkab Gunungkidul mengambil langkah-langkah penanggulangan agar penyakit berbahaya tersebut bisa teratasi. Jumlah populasi ternak di Gunungkidul cukup banyak mencapai 70 persen dari seluruh populasi di DIY, karena itu penanganan dan pencegahan harus terus ditingkatkan.

“Dampak realitas penyakit antraks telah menimbulkan multi efek menyangkut ekonomi, kesehatan dan lainnya dan tidak hanya menimbulkan persoalan daerah semata yang harus dicegah secara komprehensif,” katanya dalam kunjungan kerjanya di Gunungkidul Jumat (17/1).

Pernyataan sebagai Kejadian Luar Biasa antraks di Kabupaten Gunungkidul juga telah mempertimbangkan berbagai hal dan mengacu pada kriteria yang ada, yakni timbulnya suatu penyakit menular tertentu yang sebelumnya tidak pernah ada atau tidak dikenal pada suatu daerah.Peningkatan kejadian kesakitan terus menerus selama 3 (tiga) kurun waktu dalam jam, hari atau minggu berturut-turut, terjadi peningkatan kejadian kesakitan dua kali atau lebih dibandingkan dengan periode sebelumnya.Kebutuhan untuk peningkatan kemampuan atau peningkatan kebutuhan dokter dalam mendiaknosa penyakit antraks. Karena itu kementerian kesehatan akan melakukan pelatihan untuk tenaga kesehatan yang berkaitan dengan penanggulangan dan pencegahan penyakit antraks.

“Hal ini cukup penting karena dampak antraks meimbulkan kerawanan-kerawanan tertentu yang harus disikapi secara komprehensif,” imbuhnya.

Selain itu melalui Dinas Kesehatan Propinsi DIY Kementerian kesehatan juga akan menyerahkan sebagian alat pelindung diri mulai dari sepatu, masker, skot untuk melindungi tubuh untuk melakukan pelayanan terhadap kasus antraks. Saat ini langkah pemerintah Gunungkidul sudah cukup baik yakni melakukan pembatasan lalu-lintas hewan, tetapi hendaknya bisa diperluas lagi yakni lalu-lintas pakan ternak yang bukan tidak mungkin didatangkan dari luar daerah yang terindikasi daerah asal itu terdapat penyakit antraks. Mengenai jaminan untuk memastikan daging yang dikonsumsi tersebut sehat perlu dilakukan pengawasan terhadap tempat-tempat usaha pemotongan hewan. Sayangnya hingga saat ini Kabupaten Gunungkidul belum memiliki tempat pemotongan hewan. Sedangkan penangnan kasus jangan hanya daerah atau yang terindikasi, tetapi harus dilakukan secara luas termasuk lingkungan dan ekosistemnya hewan.

“Sampai saat ini yang telah dilaporkan ada 21 kasus dan mudah-mudahan segera cepat teratasi,” ucapnya.

Kepala Dinas Pertanian Dan Pangan (DPP) Kabupaten Gunungkidul Ir Bambang Wisnu Broto menyatakan bahwa upaya pencegahan penyakit antraks terus dilakukan dan fokus pada Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE). Melakukan pembatasan pada arus lalu-lintas hewan, mengomtimalkan pos pengawasan hewan di perbatasan dan melakukan koordinasi lintas propinsi dan kabupaten/kota agar penyakit antraks bisa ditanggulangi. Kunjungan Kerja Dirjen P2P tersebut diterima Bupati Gunungkidul Hj Badingah S Sos, Sekda Ir Drajad Ruswandono, Asisten Perekonomian Dan Pembangunan Asman Latif dan para pimpinan OPD di Rumah Dinas Bupati Gunungkidul kompleks Alun-Alun Wonosari. (Pur)

Read previous post:
Pohon Cagar Budaya Roboh

DLINGO (MERAPI) - Pohon besar yang diperkirakan berusia ratusan tahun di Dusun Dlingo 2, Desa Dlingo, Kecamatan Dlingo roboh. Pohon

Close