ROTASI GURU DI GUNUNGKIDUL: Disdikpora Tunggu Juknis

WONOSARI (MERAPI) – Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Gunungkidul menunggu petunjuk teknis (juknis) menindaklanjuti wacana rotasi guru yang dilontarkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), guna memperkaya gaya mengajar di sebuah sekolah.

Kepala Disdikpora Gunungkidul, Bahron Rosyid, Senin (29/7), mengatakan surat resmi atau aturan resmi untuk mengatur rotasi guru belum keluar, sehingga pihak daerah saat ini belum mengetahui bagaimana mekanisme rotasi.

“Secara kualitas guru di Gunungkidul sama tapi gaya mengajar tiap guru tetap berbeda. Sehingga dengan adanya pertukaran dapat memperkaya gaya mengajar di suatu sekolah,” katanya dikutip Antara.

Bahron menyampaikan jika aturan resmi terkait dengan rotasi guru sudah keluar pihaknya siap untuk menjalankan aturan rotasi tersebut. “Aturan zonasi guru pun belum final, tetapi zonasi guru dengan zonasi siswa itu berbeda. Kalau zonasi siswa itu mendekatkan siswa ke sekooah tetapi zonasi guru itu tidak mendekatkan guru ke sekolah tetapi, bagaimana dalam satu zona terdapat kompetensi guru yang relatif sama,” katanya.

Bahron Rosyid menambahkan zonasi tidak memindah-mindahkan guru. Kalau hal tersebut terjadi maka kemungkinan akan ada sekolah yang akan kekurangan guru.
Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) 3 Patuk Dalno Legowo mengungkapkan rotasi guru tersebut kemungkinan digunakan untuk menambah jam mengajar guru yang kekurangan jam mengajar di suatu sekolah.

“Saya pikir hal tersebut tidak masalah, kemungkinan wacana tidak hanya guru saja tetapi juga sarana prasana misalkan sekolah tertentu memiliki laboratorium tertentu nanti siswa bisa belajar ke sekolah yang memiliki lab itu,” katanya.
Mungkin nanti, kata dia, dinas terkait akan membuat sebuah zona yang nantinya guru akan berpindah sekolah dalam satu zona itu.

“Kalau guru nanti akan seperti pegawai bank yang sekian tahun lalu dirotasi pindah sekolah, menurut saya belum diperlukan. Kalau memang sasarannya memeratakan kualitas saya rasa kualitas guru di Gunung Kidul sama sudah merata. Sama-sama sarjana,” katanya.

“Kalau memang kenapa murid pinggiran berbeda prestasinya dengan murid yang di kota memang sangat dipengaruhi oleh input peserta didiknya,” tambahnya.

Sebelum adanya wacana tersebut ia pernah berkelakar dengan sesama kepala sekolah untuk menantang guru-guru yang ada di kota untuk mengajar di sekolah pinggiran.
“Apakah guru yang mengajar di sekolah favorit apakah bisa mengubah keadaan di sekolah pinggiran, artinya itu bukan guru tetapi input siswa karena siswa-siswa yang ada di kota kebanyakan mereka mau untuk ikut les kalau siswa di sekolah pinggiran les gratis saja tidak berangkat,” tandas Dalno Legowo. (*)

Read previous post:
Lewat FGD, Kementan Terus Mencari Solusi Masalah Pupuk Bersubsidi

SURABAYA (HARIAN MERAPI) - Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperbaiki penanganan pupuk bersubsidi. Salah satunya dengan menggelar Forum Discussion Group (FGD)

Close