Ratusan Telaga Gunungkidul Mengering

MERAPI-ANTARA/SUTARMI  Telaga di Gunungkidul yang mengering.
MERAPI-ANTARA/SUTARMI
Telaga di Gunungkidul yang mengering.

WONOSARI (MERAPI) – Sebanyak 355 dari 460 telaga di Kabupaten Gunungkidul, mulai mengering karena tidak ada hujan dalam kurun waktu empat bulan terakhir. Hal ini menyebabkan tidak dapat dimanfaatkan masyarakat untuk keperluan mandi cuci dan kakus.

“Di Kabupaten Gunungkidul ada 460 telaga yang tersebar di seluruh kecamatan, namun dari hasil survei Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) sebanyak 355 telaga sudah kering tidak ada air yang bisa dimanfaatkan warga,” kata Kepala Bidang Pengairan Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPUPRKP) Gunungkidul, Taufik Aminudin, Selasa (23/7).

Ia memprediksi jumlah telaga yang mengering akan bertambah. Hal ini mengingat prediksi hujan turun baru akan terjadi pada Oktober nanti. “Kalau musim kemarau ini lama, jumlah yang terancam mengering lebih banyak,” katanya dilansir Antara.

Taufii mengatakan saat musim penghujan seluruh telaga di Gunung Kidul mampu menampung air sebanyak 5.149.954,75 meter kubik. Kemudian saat musim kemarau hanya menyisakan 1.119.386,70 meter kubik. “Kondisi telaga saat ini sangat memprihatinkan. Warga sudah tidak bisa mandi atau mencuci,” katanya.

Ia mengakui kondisi telaga tidak banyak menampung air karena terjadi sedimentasi yang cukup parah. Bahkan, telaga ada yang beralih fungsi menjadi lahan pertanian. Masyarakat ada yang menanami pakan ternak dan padi.

Berdasarkan pantauan di lapangan, dari 460 telaga yang ada di Gunung Kidul, sebanyak 27 telaga yang berubah fungsi. “Kami mengusulkan ke BBWSSO untuk melakukan pengerukan telaga, supaya saat hujan dapat menampung air maksimal dan dapat dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhaan masyarakat saat kemarau,” katanya.

Kepala Seksi Pembangunan, Bidang Pengairan DPUPRKP Gunung Kidul Sigit Swastono menambahkan 27 telaga yang alih fungsi, saat ini kondisinya sudah mati. Telaga-telaga yang mati ini dialihfungsikan untuk kegiatan lain seperti di Desa Jepitu, Kecamatan Girisubo, yang diubah menjadi sekolahan.

Menurut dia, keberadaan telaga digunakan untuk menampung air, sehingga bisa untuk saluran irigasi ataupun mencukupi kebutuhan sehari-hari seperti memberi minum ternak pada saat kemarau. “Telaga dangkal tidak bisa digunakan, masyarakat merubah menjadi lahan pertanian,” tandasnya. (*)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
PERINGATAN HARI ANAK NASIONAL: SD Budi Utama Ikrar Sekolah Ramah Anak

MLATI (MERAPI) - Tak kurang 300 siswa dari kelas IV, V dan VI SD Budi Utama, Sinduadi, Mlati, Sleman berderet

Close