PANEN KETELA DI GUNUNGKIDUL – Pemkab Targetkan Hasil Panen 780 Ribu Ton

MERAPI-BAMBANG PURWANTO  Panen ketela pohon varietas Dorowati di Desa Kemadang, Tanjungsari.
MERAPI-BAMBANG PURWANTO
Panen ketela pohon varietas Dorowati di Desa Kemadang, Tanjungsari.

WONOSARI (MERAPI) – Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Gunungkidul menargetkan produksi ketela pohon musim tanam tahun ini dan akan dipanen mulai Juli – Agustus 2019 ini sebanyak 780.000 ton. Tingginya target hasil panen ini ditunjang dengan keberhasilan pengembangan tanaman umbi-umbian khususnya jenis ketela pohon varietas Darowati yang telah dikembangkan di sejumlah daerah.
“Secara umum hasil panen ketela tahun ini meningkat, tetapi yang patut diwaspadai adalah jatuhnya harga di masa panen seperti sekarang ini,” kata Kepala Bidang Tanaman Pangan DPP Gunungkidul Raharjo Yuwono, Rabu (17/7).

Tahun ini lahan tanaman ketela di Kabupaten Gunungkidul ada 45.816 hektare, tahun lalu 49.478 hektare dan dari jumlah luasan ini, wilayah Kecamatan Saptosari memiliki lahan terluas dengan 5.826 hektare. Untuk Kecamatan Ponjong ada 3.512 hektare, Semanu ada 3.488 hektare dan Panggang ada 3.376 hektare. Sedangkan untuk wilayah kecamatan yang lain dalam kisaran 2.500-2.800 hektare dan paling sedikit di Kecamatan Ngawen hanya mencapai 417 hektare. Sementara untuk panen tahun ini secara umum diperkirakan akan lebih baik dibanding dengan tahun lalu. Pasalnya, pada tahun ini hujan turun tidak terlalu panjang sehingga ubi kayu bisa tumbuh maksimal.

“Hasil tahun ini lebih baik dan hasil ubinan produksinya mencapai 170 – 220 kuintal per hektare,” imbuhnya.

Untuk bididaya tanaman ketela ini pihaknya mengembangkan perluasan tanaman ubi kayu varietas Darowati. Varietas tersebut memiliki kelebihan ukuran umbinya yang cukup besar. Seperti pada panen ketela di Bulak Ngepung, Kemadang, Tanjungsari hasilnya cukup baik dengan mengembangkan Varietas Dorowati yang memang merupakan varietas unggulan. Sedangkan untuk harga ketela pohon dalam keadaan kayu basah panen saat ini sebesar Rp 1.500-Rp 1.700,- per kilogram. Sedangkan untuk harga gaplek kering panen dalam kisaran harga Rp 2.500,- sampai dengan Rp 3.000,- per kilogramnya.

“Tahun ini harga ketela maupun gaplek membaik dan kita harapkan stabil,” ucapnya.

Terpisah Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Johan Eko Sudarto mengatakan, dengan melimpahnya hasil panen saat ini pihaknya akan mewaspadai trend turunnya harga pada masa panen ini. Sesuai dengan hukum pasar, semakin banyak pasokan ditengah permintaan turun, maka harga ketela akan mencapai penurunan. Dia mengimbau kepada petani untuk lebih kreatif dalam menyikapi turunnya harga tersebut. (Pur)

Read previous post:
PERESMIAN RUMAH PERBARINDO: BPR-BPRS Sangat Dibutuhkan Industri UMKM

SEWON (MERAPI) - Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) saat ini sangat dibutuhkan sektor industri terutama

Close