• Jumat, 30 September 2022

Penyaluran pinjaman fintech lending di Jogja hingga Juni 2022 sebesar Rp 4.578,54 miliar

- Jumat, 29 Juli 2022 | 11:00 WIB
Acara OJK Goes to Yogyakarta yang bekerja sama dengan Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), Kamis (28/7/2022).  (Dok Humas OJK)
Acara OJK Goes to Yogyakarta yang bekerja sama dengan Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), Kamis (28/7/2022). (Dok Humas OJK)

JOGJA, harianmerapi.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengadakan acara OJK Goes to Yogyakarta yang diselenggarakan bekerja sama dengan Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), Kamis (28/7/2022), bertema 'Pinjaman Online: Manfaat dan Risiko bagi Masyarakat'.

Kegiatan yang diikuti 290 peserta dari kalangan pelaku UMKM, mahasiswa, dan masyarakat umum di Jogja itu bertujuan untuk memperkenalkan industri fintech peer-to peer (P2P) lending atau fintech lending (pinjaman online) sebagai alternatif pendanaan bagi masyarakat, termasuk memberikan pemahaman pada manfaat dan risikonya agar tidak terjebak oleh penyelenggara pinjaman online ilegal.

Baca Juga: Terpilih Jadi Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK, Mirza Adityaswara Mundur dari Presiden Komisaris OVO

Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Kantor Otoritas Jasa Keuangan DIY, Parjiman dan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta Prof. Dr. Sumaryanto, M. Kes., AIFO.

Ada tiga narasumber dalam kegiatan tersebut, yakni Tris Yulianta (Direktur Pengaturan, Perizinan, dan Pengawasan Fintech OJK), Dr. Ratna Candra Sari, M.Si, CA, CFP, IFP (Dosen Universitas Negeri Yogyakarta), Wiwit Puspasari (Wakil Ketua I Satgas Waspada Investasi), dan Sunu Widyatmoko (Sekretaris Jenderal AFPI).

Parjiman menyatakan, terdapat gap antara tingkat literasi dan inklusi keuangan. Ini menunjukkan bahwa banyak masyarakat yang menggunakan jasa keuangan namun belum begitu paham terhadap produk/jasa yang digunakan tersebut. 

Baca Juga: Teror Pinjol Ilegal, Pinjam Rp 2 Juta Membengkak Rp 100 Juta, Andai Presiden Jokowi Turun Tangan Lebih Cepat

Parjiman menambahkan, persentase penduduk miskin di DIY berdaasarkan data BPS cukup tinggi, yakni 11,34% dengan tingkat ketimpangan/indeks Gini 0,439. “Sosialisasi dan edukasi keuangan termasuk literasi terkait keuangan digital di Yogyakarta harus terus kita genjot,” kata Parjiman.

Sementara itu Tris Yulianta menjelaskan mengenai karakteristik fintech lending legal/ berizin di OJK, baik yang konvensional maupun yang berbasis syariah. Tris memaparkan model-model pendanaan kepada sektor pengusaha mikro perempuan, sektor pertanian dan perikanan, sektor pendidikan, sektor komersil, dan sektor properti.

Halaman:

Editor: Sutriono

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X