• Rabu, 29 Juni 2022

BI Menambah Likuiditas di Perbankan Sebesar Rp129,92 Triliun, Sejak Awal Tahun Hingga 15 Oktober 2021

- Selasa, 19 Oktober 2021 | 19:48 WIB
Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Pengumuman Hasil RDG Bulan Oktober 2021 Cakupan Triwulanan di Jakarta, Selasa (19/10/2021).  (ANTARA/Agatha Olivia)
Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Pengumuman Hasil RDG Bulan Oktober 2021 Cakupan Triwulanan di Jakarta, Selasa (19/10/2021). (ANTARA/Agatha Olivia)

JAKARTA, harianmerapi.com - Bank Indonesia (BI) telah menambah likuiditas atau quantitative easing di perbankan sebesar Rp129,92 triliun sejak awal 2021 hingga 15 Oktober, sehingga kondisi likuiditas menjadi sangat longgar.

"Dengan ekspansi moneter tersebut, kondisi likuiditas perbankan pada September 2021 sangat longgar, tercermin pada rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) yang tinggi, yakni 33,53 persen," ungkap Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulan Oktober 2021 Cakupan Triwulanan di Jakarta, Selasa (19/10/2021).

Selain itu, ia mengatakan bank sentral juga melanjutkan pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar perdana untuk pendanaan APBN 2021 sebesar Rp142,54 triliun sejak Januari hingga 15 Oktober 2021.

Baca Juga: Kasus Dugaan Asusila Kapolsek. Ketua DPRD : Kapolda Sulteng Harus Tindak Tegas Oknum Tersebut

Pembelian tersebut terdiri atas Rp67,08 triliun melalui mekanisme lelang utama dan Rp75,46 triliun melalui mekanisme lelang tambahan alias greenshoe option (GSO).

Ke depan, Perry menyebutkan penambahan likuiditas perbankan akan dikurangi secara perlahan karena kondisi likuiditas yang sangat longgar.

"Kebijakan ini akan dilakukan tanpa memberi dampak pada kemampuan perbankan dalam menyalurkan kredit maupun kemampuan pemerintah untuk menerbitkan SBN," ungkapnya.

Baca Juga: Kabar Gembira! Temanggung Menangi Sanitasi Total Berbasis Masyarakat 2021

Sementara itu, ia menuturkan likuiditas perekonomian juga meningkat, tercermin pada uang beredar dalam arti sempit (M1) dan luas (M2) yang tumbuh meningkat masing-masing sebesar 11,2 persen (year on year/yoy) dan delapan persen (yoy).

Pertumbuhan uang beredar tersebut terutama didukung oleh kredit perbankan yang mengindikasikan semakin meningkatnya pembiayaan bagi pemulihan ekonomi nasional.*

Halaman:

Editor: Widyo Suprayogi

Sumber: Antara

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Tips bagi Pelaku UMKM yang Akan Go Digital...

Minggu, 26 Juni 2022 | 12:30 WIB
X