• Rabu, 8 Desember 2021

Pemerintah Perlu Lakukan Reformasi Belanja Negara. Ekonom CSIS : Ubah Paradigma Bahwa Anggaran Harus Habis

- Kamis, 14 Oktober 2021 | 18:30 WIB
Tangkapan layar Kepala Departemen Ekonomi Center for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri dalam Diskusi Publik di Jakarta, Kamis (14/10/2021).  (ANTARA/Sanya Dinda)
Tangkapan layar Kepala Departemen Ekonomi Center for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri dalam Diskusi Publik di Jakarta, Kamis (14/10/2021). (ANTARA/Sanya Dinda)

JAKARTA, harianmerapi.com - Kepala Departemen Ekonomi Center for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri mengatakan pemerintah juga perlu melakukan reformasi belanja negara, misalnya dengan mengubah paradigma bahwa anggaran negara harus dihabiskan.

"Bagaimana anggaran harus dihabiskan atau sulit untuk dikembalikan itu harus diubah," kata Yose dalam Dialog Publik daring yang dipantau di Jakarta, Kamis (14/10/2021).

Ia menceritakan bahwa pernah mendapatkan hibah dari pemerintah untuk melakukan penelitian yang tidak dapat dihabiskan karena Covid-19. Namun demikian, dengan tidak menghabiskan hibah itu, nilainya malah menjadi jelek.

Baca Juga: Update Covid-19 DIY, 34 Kasus Positif, 84 Orang Sembuh, 1 Kasus Meninggal

Di samping itu, Yose juga mengusulkan agar anggaran dari pemerintah yang tersisa bisa dikembalikan kepada pemerintah.

"Poin saya kita mungkin bicara soal reformasi perpajakan di dialog ini, tapi saya pikir pemerintah perlu reformasi anggaran, termasuk bidang pengeluaran secara besar-besaran," kata Yose.

Menurutnya, bahkan tanpa krisis, pengeluaran negara juga terus membesar secara proporsional. Meskipun pengeluaran memang baik, tapi menurutnya, beberapa pengeluaran dapat dilakukan dengan lebih efisien.

Baca Juga: Kasus Melandai, Masyarakat Mulai Abai Protokol Kesehatan

Di samping itu, kata dia, pemerintah juga harus mencari cara agar bunga utang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tidak terlalu tinggi.

"Kebanyakan utang Indonesia datang dari Surat Berharga Negara (SBN) yang mungkin bisa mengurangi kredibilitas kalau bunganya dikurangi, tapi bunga ke depan mungkin bisa ditawarkan lebih efisien agar nanti bayar bunga tidak terlalu tinggi," ucapnya.*

Halaman:

Editor: Widyo Suprayogi

Sumber: Antara

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X