• Selasa, 26 Oktober 2021

Holding BUMN Pangan Harus Bersifat Terbuka. Peneliti : Pemerintah Harus Berikan Perlakuan Yang Setara

- Minggu, 19 September 2021 | 17:22 WIB
Petani di tengah sawah.  (ANTARA/Pradipta Kurniawan Syah)
Petani di tengah sawah. (ANTARA/Pradipta Kurniawan Syah)

JAKARTA, harianmerapi.com - Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Indra Setiawan menyatakan holding BUMN pangan harus bersifat terbuka dengan kompetisi pasar bebas sehingga tidak mendominasi sektor pangan domestik.

"Holding BUMN pangan juga harus terbuka terhadap kompetisi pasar. Untuk itu, pemerintah perlu memberikan perlakuan yang setara antara holding BUMN ini dan pihak swasta yang hendak terlibat dalam sektor pangan dan pertanian," kata Indra Setiawan dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (19/9/2021).

Menurut dia, hal tersebut akan mendorong lebih banyak sektor swasta untuk terlibat dalam sektor pangan dan pertanian sehingga peningkatan investasi dapat terus terjadi dan berdampak positif pada peningkatan produktivitas pertanian.

Baca Juga: Pemerintah Akan Evaluasi Kedatangan Pekerja Migran Indonesia dan WNA, Untuk Antisipasi Varian Baru Covid-19

Ia mengingatkan bahwa pembentukan holding yang akan mencakup seluruh rantai pasok dari hulu ke hilir tidak hanya akan berpotensi menyebabkan rendahnya kompetisi di sektor pertanian, tetapi juga berpotensi menghambat investasi yang sangat dibutuhkan sektor ini untuk meningkatkan produktivitas pangan di berbagai daerah.

"Peningkatan produktivitas pertanian Indonesia membutuhkan beberapa faktor, seperti investasi yang akan memodernisasi pertanian, peningkatan akses kepada irigasi dan peningkatan akses pada input pertanian," jelasnya.

Ia memaparkan pemerintah memberikan BUMN suntikan modal, penunjukan langsung, serta kemudahan birokrasi, terutama dalam pembebasan dan akuisisi lahan. Keuntungan-keuntungan demikian tidak dapat dinikmati oleh investor swasta yang menyebabkan mereka enggan terlibat dalam proyek tersebut.

Baca Juga: Kecelakaan Kapal di Perairan Batuampar Kota Batam, 2 Penumpang Masih Dicari

Apalagi, penguatan ketahanan pangan Indonesia memang penting mengingat ketahanan pangan Indonesia berada di peringkat 65 dari 113 negara, menurut Indeks Ketahanan Pangan Global 2020.

"Investasi di sektor pertanian Indonesia masih tergolong rendah. Investasi asing di sektor ini misalnya, hanya sebesar 3 persen-7 persen dari total Penanaman Modal Asing (PMA) di Indonesia pada tahun 2015 hingga 2019. Sebagian besar investasi pun masuk ke sektor kelapa sawit. Sedangkan untuk sektor pertanian lainnya, seperti tanaman pangan dan hortikultura, masih jauh lebih rendah," katanya.

Halaman:

Editor: Widyo Suprayogi

Sumber: Antara

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X