PRODUKSI BUBUK CABAI: Bisnis Menjanjikan Antisipasi Harga Anjlok

MERAPI-AWAN TURSENO
Warga Harjobinangun mengikuti pelatihan membuat bubuk cabai

PAKEM (MERAPI) — Pemerintah Kalurahan Harjobinangun, Pakem menyelenggarakan pelatihan membuat bubuk cabai. Kerja sama Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (PMK) Kabupaten Sleman, agenda ini sebagai langkah pemberdayaan masyarakat terutama kaum perempuan.

Kepala Seksi Penguatan Kelembagaan dan Kapasitas Masyarakat, Dinas PMD Sleman, Sunkawati Budi Rahayu menjelaskan, di wilayah Harjobinangun mata pencaharian masyarakat adalah petani terutama cabai. Namun komoditas pertanian ini harganya tidak menentu (fluktuatif), terkadang tinggi tetapi juga sering rendah.

“Kalau harga cabai tinggi, petani jelas untung. Sebaliknya, jika harganya rendah, mereka rugi. Bahkan untuk menanam kembali terkadang mereka tidak mampu lagi. Kondisi ini harus disikapi dengan membuat diversifikasi produk yaitu dengan cara dikeringkan,” kata Sunkawati disela-sela pelatihan, Rabu (25/11).

Dijelaskan, agenda selama dua hari yaitu 25-26 November diharapkan dapat memberi bekal kepada peserta sebagai terobosan baru meningkatkan ekonomi keluarga. Hasil pertanian yang selama ini dijual segar, dapat diolah menjadi produk lebih ekonomis dan bernilai tinggi.

Meskipun terlihat sederhana, kegiatan tersebut harus didampingi secara terus menerus hingga taraf pemasaran. Jika mereka menemukan kesulitan, pihaknya dapat mencarikan solusi agar usaha yang dirintisnya dapat bberkelanjutan.
“Namanya pemberdayaan masyarakat tidak hanya berhenti dalam pelatihan. Tetapi harus didampingi hingga mereka berhasil memasarkan produknya,” ujar Sunkawati.

Agar kualitasnya bagus, Dinas PMK menggandeng pelatih yang profesional dan dapat dipertanggungjawabkan keahliannya. Untuk kali ini, pihaknya menggandeng Dian, Dosen Universitas Islam Indonesia (UII).
Menurut Dian, pembuatan bubuk cabai sangat mudah dikerjakan oleh masyarakat. Apabila proses pembuatannya tepat, akan menghasilkan produk berkualitas dan layak dijual ke pasaran. Begitupun alatnya dapat sederhana dan mudah didapat di pasar.
“Membuat bubuk cabai modalnya tidak besar tetapi keuntungannya menjanjikan. Alatnya bisa memakai blender yang murah. Pengeringan juga bisa mengandalkan panas sinar matahari,” ungkap Dian.

Untuk menghasilkan bubuk cabai berkualitas, bahan dasarnya harus baik. Cabai yang busuk harus dipilah agar tidak menurunkan hasil mutu. Saat pengeringanpun harus standar, jangan sampai kandungan air masih tinggi.
“Pedoman paling mudah, 1 kilo gram cabai dikeringkan hingga kandungan air hanya 0,25 persen. Atau setara 1 kilo gram cabai basah dikeringkan menjadi bobot mencapai maksimal 900 gram,” katanya.

Setelah kering, cabai dapat langsung dihancurkan dengan blender hingga benar-benar halus.
Kemudian disaring agar butiran bubuk ukurannya sama. Kemudian dikemas menggunakan botol atau plastik sesuai selera.
Dwi Susilowati, salah satu petani cabai mengaku sangat tertarik pelatihan yang diselenggarakan Pemerintah Kalurahan harjobinangun. Selama ini, sebagai petani merasa rugi jika harga cabai sangat rendah. Bahkan untuk memanen merasa enggan karena tidak sesuai dengan biaya operasional terutama tenaga memetik.
“Dengan mengikuti pelatihan ini petani cabai tidak akan khawatir apabila harganya murah. Hasil panen dapat dikeringkan menjadi bubuk dengan harga lebih tinggi. Keuntungannya tentu juga berlipat,” pungkasnya. (Awn)

Read previous post:
Kuota Pengunjung Candi Borobudur 4.000 Orang Per Hari

KUOTA pengunjung Taman Wisata Candi Borobudur, Magelang, mulai Kamis (26/11) lalu bertambah menjadi 4.000 orang dari sebelumnya 3.500 orang per

Close