Rahasia Keberhasilan Dakwah

DAKWAH Islamiah pada hakekatnya adalah usaha sadar untuk mengubah seseorang, sekelompok, atau suatu masyarakat menuju keadaan yang lebih baik sesuai dengan perintah Allah SWT dan tuntunan Rasul-Nya. Usaha mengubah suatu kelompok masyarakat dari satu keadaan kepada keadaan yang lebih baik tidak mungkin terlaksana tanpa rencana yang sistematis dan terpadu. Semua penggerak dakwah memiliki potensi untuk berhasil dalam dakwahnya. Tapi sering kali kita melihat adanya kegagalan-kegagalan yang ditemui di lapangan. Boleh jadi mereka yang gagal dalam dakwah adalah mereka yang tidak pernah mendalami sirah Nabi Muhammad SAW dalam dakwahnya.

Para penggerak dakwah hendaknya benar-benar memahami langkah-langkah Rasulullah dalam mengemban risalah hingga syi’ar Islam gemilang hingga kini. Semua itu tidak akan didapat kecuali telah memiliki kesungguhan dalam dakwah dan memahami keteladanan Nabi Muhammad SAW, khususnya dalam bidang dakwah Islam amar makruf dan nahi munkar.

Rasulullah Muhammad SAW adalah uswatuh hasanah bagi setiap muslimin, termasuk dalam berdakwah amar ma’ruf dan nahi munkar, sebagaimana firman-Nya : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (QS. Al-Ahzab, 33:21).

Rasulullah adalah seorang pembangun agama yang hak dan diridha-Nya di atas bumi ini. Di antara sebab atau alasan beliau diberi pertolongan Allah SWT dalam dakwahnya adalah; Pertama, Nabi Muhammad SAW yakin yang sepenuhnya bahwa agama yang disiarkan itu adalah agama yang hak yang akan mengalahkan segala sesuatu yang batil, sebagaimana firman-Nya : “Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci.” (QS. Ash-Shaff, 61:9). Juga firman-Nya : ”Katakanlah! Sudah datang barang yang benar dan lenyap barang yang batal: bahwasanya barang yang batal itu lenyap adanya” (QS. Al-Isra’, 17:80).

Kedua, Nabi yakin bahwa Allah SWT pasti akan membela dan memenangkan orang-orang yang membela dan memperjuangkan agama-Nya, sebagaimana firman-Nya : “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. (QS. Muhammad, 47:7).

Ketiga, Nabi dan para sahabat benar-benar berjihad (berjuang sekuat-kuatnya) untuk tersiarnya Agama Islam dan yakin akan mendapatkan kemuliaan dan kemenangan, sebagaimana firman-Nya : “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunuukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang yang berbuat baik”. (QS. An-Ankabut, 29:69).

Keempat, Nabi berkehendak sekali dengan kemauan yang sangat kuat, memikirkan umat manusia agar mau mengikuti petunjuk agama, sehingga mempunyai perasaan yang sangat berat manakala mendapatkan para sahabat dan pengikutnya tidak mengikuti tuntunan Kitab Suci A-Qur’an. Firman Allah SWT : “Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan”. (QS. Al-Furqan, 25:30). Dikarenakan Rasulullah berat memikirkan umatnya yang banyak meninggalkan Kitab Suci Al-Quran, beliau hampir saja rusak badannya, sebagaimana firman-Nya : “Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya meeka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Quran)”. (QS. Al-Kahfi, 18:6).

Kelima, Nabi Muhammad SAW sangat kasih sayang dengan umatnya dan sangat berharap agar ummatnya memperoleh kebahagiaan dunia-akhirat, sebagaimana firman-Nya : “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu,
sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”. (QS. At-Taubah, 9:128).

Keenam, Rasulullah SAW sangat tinggi himmah kemauan dan memiliki budi pekerti yang agung, sebagaimana firman-Nya : “Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” [QS. Al-Qalam, 68:4). Rasulullah SAW tidak pernah cacat di masyarakatnya. Selain karena terlahir dari keluarga mulia, Nabi Muhammad SAW juga selalu dikenal hanya mengerjakan perbuatan yang mulia saja. Beliau memiliki prestasi yang diakui oleh ummatnya sejak usia belia. Dan itulah salah satu modal utama keberhasilan dakwah Rasulullah Muhammad SAW yang menjad teladan ummat sepanjang masa. Insya Allah!

Read previous post:
Pohon Tua Ambruk, Wonosari-Yogya Macet Total

Close