Keluarga Harmonis

ALLAH SWT menciptakan manusia secara berpasang-pasangan antara suami dan istri untuk mendapatkan ketenangan, ketenteraman, dan penuh kasih sayang. Hal ini merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah dan nikmat yang diberikan bagi mereka yang bisa mengambil pelajaran (QS Ar-Rum, 30:21). Ketika ada orang yang menikah, Rasulullah SAW selalu membaca doa “barakallahulaka wa baraka’alaika wajama’a bainakuma fii khair” yang artinya “Mudah-
mudahan Allah memberkahimu, baik ketika senang maupun susah dan selalu mengumpulkan kamu berdua dalam kebaikan”. Dari doa tersebut bisa dilihat bahwa Rasul tidak mengatakan supaya suatu keluarga jadi kaya-raya, melainkan agar diberkahi Allah SWT.

Maksudnya berkah adalah hidupnya selalui dikaruniai Tuhan, rezekinya tercukupi dan bisa membawa kebaikan. Rumah tangga yang harmonis adalah dambaan setiap pasangan yang sudah menikah. Rumah tangga yang harmonis tentu tidak dapat terjadi tanpa adanya proses dan pembelajaran dari masing-masing pasangan. Hal ini dikarenakan keharmonisan dalam rumah tangga bukanlah sebagai hasil yang didapatkan secara tiba-tiba melainkan melalui tahapan yang membutuhkan jatuh bangunnya usaha di dalam meraihnya.

Pernikahan adalah kunci kesuksesan mencetak generasi mendatang yang lebih kuat secara iman sebagai abdullah dan profesional dalam bekerja sebagai khalifah Allah di muka bumi. Setidaknya ada tiga hal penting dalam menjaga keharmonisan rumah tangga yang dikabarkan oleh Al-Quran dan Al-Hadits, serta kita harus meneladaninya.

Pertama, selalu melihat pasangan sebagai seorang sahabat di dalam menjalani perjalanan hidup yang setara. Dalam hal kewajiban dan hak tentu suami dan istri memiliki peran yang berbeda. Akan tetapi, setiap dari keduanya tidak boleh merasa lebih tinggi derajatnya dari yang lain. Justru kelebihan yang Allah berikan di antara keduanya adalah bekal untuk mengemban tanggung jawab dalam keluarga. Firman Allah SWT : “Wahai manusia!
Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)-nya…” (QS An-Nisa, 4:1). “Dialah yang menciptakan kamu dari jiwa yang satu (Adam) dan daripadanya Dia menciptakan pasangannya” (QS Al-A’raf, 7: 129). “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan, (karena) sebagian kamu adalah (keturunan) dari sebagian yang lain.” (QSAli Imran, 3:195).

Kedua, selalu menambah semangat beribadah kepada Allah. Hal ini sangat penting karena adanya kasih sayang antara suami dan istri termasuk nikmat yang Allah berikan. Allah lah yang memantapkan hati suami-istri untuk saling mencintai dan menyayangi dalam ikatan rumah tangga. Karena, Allahlah yang memiliki sifat Muqallibal Qulub (Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati). Oleh karena itu, orang beriman harus selalu berlindung kepada Dzat yang membolak-balikkan hati manusia. Ingat, sebelum adanya ikatan pernikahan calon suami-istri belum menikmati cinta yang begitu dalam di antara keduanya. Tetapi setelah melewati jenjang pernikahan, rasa cinta dan kasih sayang itu sela tumbuh dan membesar, sebagaimana firman-Nya : “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.

Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir” (QS Ar-Rum, 30:21). Namun demikian, penting juga dicatat, ketika Allah murka kepada suami-istri akibat dosa-dosa mereka bisa jadi Allah akan memutuskan ikatan cinta di antara keduanya.

Ketiga, berdoa agar Allah menjadikan pasangannya sebagai penyejuk hati dan pendingin mata. Firman Allah SWT : “Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa’,” (QS Al-Furqan, 25:74). Dalam ayat ini, Al-Quran menggenapi sifat orang-orang shalih yang Allah juluki mereka dengan ibad ar-rahman (hamba milik Dzat Yang Maha Pengasih) dengan sifat selalu berdoa bagi pasangan hidupnya dan keturunannya agar senantiasa menjadi penyejuk hati mereka. Ini artinya bahwa orang-orang yang bertakwa menurut Al-Quran adalah orang-orang yang paling berbuat baik kepada pasangannya baik dalam perbuatan maupun perkataan mereka. Sabda Rasulullah Muhammad SAW : “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada istri. Janganlah kalian pukul istri kalian seperti halnya kalian memukul budak-budak kalian”. (HR Al-Baihaqi). ***

Read previous post:
Pembukaan Sekolah Perlu Libatkan Epidemiolog.

SLEMAN (MERAPI) - Epidemiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Bayu Satria Wiratama, mengungkapkan keputusan untuk memulai pembelajaran tatap muka di sekolah

Close