Fokus Menangani Pandemi

BANYAK pelajaran berharga yang bisa kita petik dari proses pandemi corona yang sudah berlangsung selama berbulan-bulan ini, sejak Maret 2020 hingga saat ini. Bahwa dibutuhkan niat dan keinginan bersama agar wabah ini reda. Selama hanya sebagian masyarakat yang punya keinginan agar wabah ini segera reda, dengan disiplin mematuhi protokol covid-19 yang sudah dirumuskan oleh para ilmuwan, sementara sebagian yang lainnya suka-sukanya sendiri saja. Pokoknya tidak mau rugi.

Tetap pelesiran ke luar kota, kumpul-kumpul atau mengumpulkan orang banyak dan membuat kerumunan dan lain sebagainya…sepertinya di tahun 2020 ini, kita masih akan terus mengahadapi persoalan wabah ini terus.
Apalagi di akhir tahun 2020, ada event Pilkada yang meskipun mayoritas masyarakat yang bukan calon peserta Pilkada, bukan pula tim sukses…terus menyuarakan agar Pilkada ditunda dulu hingga pandemi ini reda. Toh dengan Pejabat Bupati/Walikota…pemerintahan daerah tetap bisa berjalan dengan baik-baik saja. Tetapi sepertinya event PILKADA tetap akan digulirkan, maka sepertinya perjalanan pandemi ini masih akan cukup Panjang dan lama.

Kata kuncinya, kenapa lama…karena kita TIDAK FOKUS. Seharusnya New-Normal tetap harus dipahami bahwa kata New di depan kata Normal, artinya situasi Belum atau sedang Tidak Normal. Sehingga ada sektor-sektor yang memang sudah seharusnya mulai digerakkan jika selama ini dikunci seperti sektor Ibadah kemudian bisnis-bisnis non-essensial seperti bengkel kendaraan, toko buku, mall dll harus diatur dengan protokol Kesehatan yang ketat dan terukur. Sementara bisnis dan tempat jual beli yang tetap diperbolehkan buka selama pandemi seperti Pasar tradisional, toko yang menjual sembako dan lain-lain proses pelaksanaan protokol kesehatannya harus terus dipantau, kalau perlu ditunggui.

Tidak Fokus itu adalah ketika temuan pasien-pasien baru masih terus meningkat, sudah ada yang menyelanggarakan mantenan, pentas musik, pertandingan olah raga dan seterusnya yang menyebabkan terjadinya kerumunan manusia. Maka, ketika ada sebagian masyarakat yang pokoknya tidak mau rugi…sementara yang lainnya sudah berbulan-bulan menahan kerugian yang tidak terkira nominalnya, dengan di rumahkan oleh tempatnya bekerja dan lain sebagainya. Penyelenggaraan berbagai hajatan dan event yang memungkinkan munculnya kluster-kluster baru tetap saja terbuka lebar, yang artinya pandemi ini semakin lama saja.

Jika semakin lama, maka semakin besar pula kerugian finansial yang harus diderita oleh keluarga-keluarga yang masih terus berusaha mematuhi protokol Kesehatan ini. Karena itu, jika saja…seluruh lapisan masyarakat mau fikus dulu, mau mengalahkan ego-nya, mau menahan diri…tetapi harus kompak, maka paling lama satu bulan sesuai dengan masa inkubasi virus ini, pandemic bisa reda. Tetapi semua orang harus menahan diri, tidak ada pentas-pentas seni dulu, tidak ada main sepeda-sepeda dulu, tidak ada kumpul-kumpul makan di resto dulu, tidak ada jalan-jalan ke luar kota dulu. Semua komitmen di rumahnya sendiri, satu bulan. Wabah ini bisa reda. Kenapa berbulan-bulan seperti ini, jawabannya karena egoisme yang tetap saja lebih dikedepankan daripada kepentingan bersama. Wallahu A’lamu Bishawwab.

.

Read previous post:
Positif Corona Bertambah 39, Pasien Sembuh 54 Orang

Close