Kemerdekaan dalam Islam

DALAM terminologis bahasa Arab, kemerdekaan adalah ‘al-taharrur wa al-khalash min ayy qaydin wa saytharah ajnabiyyah’ yang bermakna, bebas dan lepas dari segala bentuk ikatan dan penguasaan pihak lain. Hal tersebut berarti bahwa kemerdekaan adalah sesuatu yang asasi dan melekat dalam diri setiap manusia. Oleh karena itu kemerdekaan yang merupakan suatu anugerah Tuhan itu tidak dapat dan tidak boleh dirampas oleh siapapun termasuk oleh negara. Segala bentuk perbudakan dan penjajahan harus dihapuskan dan dilenyapkan dari muka bumi, karena tidak sesuai dengan kodrat manusia, makhluk mulia.

Firman Allah SWT : “(Inilah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya yang
terang-benderang dengan izin Tuhan mereka”. (QS. Ibrahim, 14 : 1). Para pendiri negara ini menyadari sepenuhnya bahwa kemerdekaan yang diraih itu di samping karena perjuangan yang sangat gigih dari para pejuang kemerdekaan, di atas itu adalah karena pertologan dari Allah SWT sebagaimana dituliskan dalam Pembukaan UUD 1945 : “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”.

Dalam Al-Quran ditunjukkan berbagai kisah perjuangan kemerdekaan orang-orang terdahulu yang dapat menginspirasi kita sebagai bangsa Indonesia yang telah merdeka selama 75 tahun. Pertama, makna kemerdekaan dapat diambil dari kisah Nabi Ibrahim AS ketika beliau membebaskan dirinya dari kehidupan bangsanya yang sesat. (QS. Al-An`am, 6 : 76-79).

Kedua, makna kemerdekaan juga dapat dipetik dari kisah Nabi Musa AS ketika membebaskan bangsanya dari penindasan Firaun. Kekejaman rezim Firaun terhadap Bani Israil (bangsa Israel) dikisahkan dalam berbagai ayat Al-Quran. Rezim Firaun (Kaisar Ramses II) merupakan representasi komunitas yang menyombongkan diri dan sok berkuasa di muka bumi. Begitu sombong dan angkuhnya sampai menklaim dirinya sebagai Tuhan sesembahan manusuai. (QS. Al-A`raf, 7 : 127; QS. Al-Baqarah, 2 : 49; dan QS. Ibrahim, 14 : 6).

Ketiga, kisah sukses Nabi Muhammad SAW dalam mengemban Risalah di muka bumi. Dalam waktu yang 23 tahun saja bisa membawa masyarakat Mekkah yang penuh kejahiliahan menjadi masyarakat yang penuh dengan kedamaian, pencerahan, dan masyarakat yang adil dan sejahtera. Allah SWT berfirman, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Maidah, 5: 3).

Ketika diutus 14 abad silam, Nabi Muhammad SAW menghadapi sebuah tatanan masyarakat yang mengalami tiga penjajahan sekaligus; disorientasi hidup, penindasan ekonomi, dan kezaliman sosial. Disorientasi hidup diekspresikan dalam penyembahan patung oleh masyarakat Arab Quraisy. Rasulullah berjuang keras mengajarkan kepada umat manusia untuk menyembah Allah Yang Maha Esa dan meninggalkan tuhan-tuhan yang menurunkan harkat dan derajat manusia. (QS. Luqman, 31: 13; QS. Yusuf, 12 : 108; QS. Adh-Dhariyat, 51 : 56, dan QS. Al-Jumu’ah, 62 : 2). Penindasan ekonomi itu dilukiskan Al-Quran sebagai sesuatu yang membuat kekayaan hanya berputar pada kelompok-kelompok tertentu saja. (QS. Al-Hasyr, 59 : 7).

Rasulullah SAW juga mengkritik orang-orang yang mengumpulkan dan menghitung-hitung harta tanpa mempedulikan kesejahteraan sosial dan keadilan ekonomi (QS. Al-Humazah, 104 : 1-4; QS. Al-Maun, 107 : 2-3). Rasulullah SAW juga mengkampanyekan pembebasan budak, kesetaraan laki-laki dan perempuan dan kesederajatan bangsa-bangsa. Dalam khutbah terakhirnya di Arafah, saat haji Wada, beliau menegaskan bahwa tak ada perbedaan antara kulit hitam, putih, antara Arab dan non-Arab, melainkan karena ketakwaannya (QS. Al-Hujurat, 49:13).

Islam yang mengemban misi memerdekakan manusia dari perbudakan dan membebaskan mereka dari kemiskinan, kebodohan, penderitaan, dan kesengsaraan itu mengajarkan kepada umatnya bahwa kemerdekaan meliputi segala hal sejauh tidak melanggar aturan Allah dan Rasul-Nya. Kemerdekaan dalam beragama dan berkepercayaan, berekspresi dalam menuangkan pikiran, hak untuk memperoleh rasa aman, keadilan dan
mendapatkan penghidupan yang layak, serta semua hak dasar yang sifatnya universal sangatlah dilindungi.

Tentunya semua haruslah berdasarkan aturan yang berlaku dalam tatanan agama dan masyarakat. Oleh karena itu, Islam memosisikan semuanya dalam wujud keadilan bagi umatnya. Islam tidak memilah dan memilih dalam menentukan keadilan. Tidak memandang apakah seorang pejabat atau rakyat, si kaya atau si miskin, semua memperoleh hak yang sama. Perbedaan status sosial-ekonomi, tidak serta merta kehilangan keadilan. Sebaliknya bagi yang status sosial tinggi, tidak boleh dibiarkan merampas hak orang lain dan kebal hukum. Keteladanan itulah yang Baginda Nabi pernah sampaikan kepada umatnya: Seandainya Fatimah anakku, mencuri, jangan orang lain yang menghukumnya! Aku sendiri akan memotong tangannya. Inilah keteladanan yang sangat mengagumkan yang dicontohkan oleh Islam untuk membawa kepada kehidupan yang penuh dengan kedamaian dan keadilan sepanjang masa!

Read previous post:
Karang Taruna Diminta Kampanye Disiplin Bermasker

SLEMAN (MERAPI) - Bupati Sleman Sri Purnomo meminta Karang Taruna berperan aktif melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat untuk patuh

Close