Bersepeda Saat Pandemi, Meniru yang Keliru

GLOBALISASI memang berimplikasi hebat dan sangat cepat terhadap perkembangan informasi dunia. Apa yang terjadi di belahan dunia lainnya, dalam hitungan detik segera diketahui oleh kita. Bahkan juga segera ditiru. Sayangnya, saat meniru apa yang dilakukan oleh orang-orang di benua eropa khususnya saat pandemic wabah covid-19 ini sedang berlangsung…kita tiru perilaku fisiknya, tetapi tidak memahami filosofi dan pertimbangan ilmiahnya.

Banyak contoh yang bisa kita ketengahkan. Harus kita akui dengan jujur bahwa benua EROPA adalah benua yang paling berhasil sejauh ini dalam mengendalikan virus covid-19. Kehidupan New-Normal sudah berlangsung hampir 2 bulan, dan Alhamdulillah tidak terjadi gelombang ke-dua. Bahkan negara-negara uni-eropa sudah saling membuka diri untuk kunjungan wisata antar negara. Demikian juga dengan aktivitas hiburan seperti bioskop, tempat-tempat wisata, pertandingan sepakbola…meski masih dilangsungkan tanpa penonton. Semuanya sudah berjalan dengan baik.

Nah, saat Provinsi Lombardi di Italia di lockdown (penguncian wilayah), tujuannya adalah untuk melokalisir penyebaran virus covid-19 dengan menahan pergerakan manusia antar wilayah, agar tidak menyebar ke wilayah-wilayah lainnya. Sementara di kita, saat pandemic belum terkendali…angka kesembuhan secara nasional baru berada di kisaran 50% tetapi arus jalan-jalan, pelesiran, jagong manten antar povinsi sudah sangat ramai dilakukan. Padahal jika kita bandingkan dengan Jerman, pemerintah Jerman baru membuka lockdown setelah tingkat kesembuhan pasien covid-19 mencapai 80%. Apa yang terjadi di tengah-tengah masyarakat kita saat melihat berita provinsi Lombardi tersebut…? Mereka mengambil inisiatif mem-portal jalan masuk kampungnya. Dan di posko-posko lockdown itu, mereka berkerumun…ngobrol berjam-jam, merokok bersama-sama dll.

Contoh lain, Bersepeda. Kita melihat…pasca pembukaan lockdown di Eropa yang terdampak paling parah seperti Inggris, Italia, Spanyol, Prancis dan Jerman… pabrik-pabrik kembali beroperasi, perkantoran mulai dibuka kembali dan para pekerja memilih sepeda sebagai alat transportasi. Jadi yang harus dicatat dan digarisbawahi bahwa memilih sepeda bukan untuk rekreasi. Olahraga tentu otomatis dilakukan, tetapi pertimbangan ilmiahnya dengan besepeda mereka bisa menghindari penggunaan transportasi umum yang padat penumpang seperti kereta rel listrik yang umumnya digunakan oleh mayoritas pekerja. Selain padat, kereta listrik juga tertutup dan memiliki sirkulasi udara terbatas. Maka sepeda menjadi opsi efektif untuk kembali bekerja. Selain itu dengan bersepeda mereka bisa terhindar dari kemacetan jalan raya.

Sementara di kita, bersepeda tentu naik daun…ketularan tren di Eropa. Sayangnya bukan untuk tujuan berangkat kerja, untuk menghindari agar tidak berkerumun di dalam alat transportasi umum. Justru bersepeda saat pandemic…mayoritas membuat kerumunan. Bersepeda ramai-ramai. Rapat, sambal ngobrol. Kemudian setelah itu nyari makan bareng-bareng yang semuanya bertentangan dengan protokol kesehatan. Padahal nafas orang yang berolah raga, dalam keadaan ngos-ngosan…ketika ngobrol dalam jarak dekat atau tidak menutupi mulutnya dengan masker, punya daya lontar virus yang lebih besar. Maka, meniru apa yang dilakukan oleh orang-orang di luar negeri boleh-boleh saja tetapi harus diketahui detil dasar pemikiran dan pertimbangan ilmiahnya agar apa yang ditiru memberikan dampak yang baik terhadap pengendalian wabah ini. Semoga bermanfaat. Wallahu A’lamu bishawwab

.

Read previous post:
TERAPKAN PROTOKOL COVID-19 -Wisata Pasar Kaki Langit Siap Dibuka

Close