Pandemi Covid-19 & Meningkatnya Perceraian

MEDIA massa ramai memberitakan peningkatan signifikan kasus perceraian di tanah air saat pandemi Covid-19 masih terus berlangsung. Ini fakta yang sangat mengkhawatirkan. Jika kita hitung sejak bulan Maret, maka bulan Juli ini pandemi Covid-19 telah berlangsung lebih dari 4 bulan. Dan masyarakat yang mendaftarkan perceraiannya ke pengadilan-pengadilan Agama meningkat. Bahkan ada kabupaten yang pengadilan agamanya mencatat, pendaftar perceraian meningkat hingga 3 kali lipat.

Jika pandemi ini misal baru berakhir bulan Desember, maka sangat mungkin separuh dari total penduduk kita, rumah tangganya bercerai. Dan apa yang terjadi, jika pandemi ini baru berakhir setelah ditemukannya vaksin yang diproduksi massal. Padahal WHO sendiri memprediksikan, baru akan tersedia vaksin pada pertengahan tahun 2021. Maka berapa banyak rumah tangga yang akan hancur, dan berapa banyak anak-anak Indonesia yang akan tumbuh dalam dis-harmoni keluarga, broken-home.

Tentu ini harus diperhatikan sungguh-sungguh oleh pemerintah, selain sektor ekonomi. Kenapa demikian…? Karena dengan kembali diusahakan dibukanya kembali berbagai sektor ekonomi, masyarakat bisa kembali bekerja dan punya income. Terus bagaimana dengan mereka yang sudah terlanjur, terkena gelombang PHK mengingat pandemi ini sudah berlangsung cukup lama. Padahal mayoritas perceraian, umumnya dipicu oleh masalah ekonomi keluarga yang hancur lebur. Suami tidak punya income, istri marah-marah. Karena setiap hari ke duanya di rumah saja untuk mencegah penularan…intensitas pertengkaranpun justru menjadi semakin meningkat.

Jadi masalah kehilangan pekerjaan menyebabkan income hilang padahal kebutuhan untuk makan-minum, beli kuota internet untuk anak-anaknya belajar jarak jauh, bayar SPP bagi yang punya anak sekolah di swasta…atau masuk ke jenjang pendidikan lebih tinggi dan kuliah, bayar BPJS, beli pulsa listrik, bayar cicilan rumah, kendaraan dan lain sebagainya…tentu akan memicu stress atau memberikan tekanan hebat. Dan orang yang sedang stress, sangat wajar jadi mudah tersinggung karena moodnya tidak baik. Mereka sebenarnya faham bahwa bercerai bukanlah solusi. Malah akan semakin memperumit persoalan. Tetapi emosi yang terpantik setiap hari, memang dapat membuat orang kehilangan rasionalitasnya.

Jika pemerintah cepat menerapkan NEW NORMAL, maka sebagian rumah tangga bisa diselamatkan dari perceraian dengan bergeraknya berbagai sektor ekonomi sehingga masyarakat bisa kembali bekerja. Namun juga harus diperhatikan nasib keluarga-keluarga yang sudah terkena PHK karena perusahaannya gulung tikar, hotel/restoran tempatnya bekerja juga sudah dijual…sementara mau banting setir mencoba menekui pekerjaan lain seperti misal menjadi ojek-online, juga butuh modal kendaraan, hp android untuk aplikasi onlinenya…dan jika selama 4 bulan ini kendaraan sudah dijual untuk kebutuhan sehari-hari, maka mereka harus mulai dari mana? Maka sebelum perceraian-perceraian itu berproses dan terwujud…harus ada kebijakan ekonomi yang juga menyentuh kelompok keluarga-keluarga ini, bisa dalam bentuk stimulus modal usaha atau membantu untuk mengambil modal kendaraan ke dealer dengan pemerintah membantu uang muka dan tiga cicilan pertama sebagai contoh agar mereka bisa kembali punya income. Kita berharap, angka perceraian bisa segera di rem…agar anak-anak bangsa ini tetap tumbuh dalam keluarga yang utuh. Karena sebaik apapun single parent, tetap lebih baik jika orang tua lengkap di rumah. Dan sebaik-baiknya ayah/ibu tiri…seorang anak tetap akan lebih baik berada di bawah perlindungan ayah dan ibu kandungnya. Wallahu a’lamu bishawwab.

Read previous post:
POSITIF COVID-19 DI DIY BERTAMBAH 8-Seorang Pasien Tularkan Corona Kepada 7 Orang

Close