Ribuan Portal di Surabaya & Fenomena Meningkatnya Corona

JIKA di banyak daerah, fenomena kampung-kampung di Portal jalan masuknya adalah sesuatu yang baru…kecuali untuk perumahan-perumahan elite, di mana jalan masuk komplek diportal dan dijaga satpam. Namun tidak untuk kota Surabaya. Jalan masuk kampung dan gang-gang diportal sudah ada sejak lama. Jika kita tiba di kota Surabaya saat dini hari dan menuju ke sebuah alamat saudara, maka kita harus menunggu dulu hingga portal dibuka oleh penduduk setelah jam 5 atau jam 6 pagi.

Dan saat virus COVID-19 merebak, jika memang konsep mem-portal jalan masuk kampung dapat mencegah penularan dan infeksi, maka seharusnya angka penularan virus covid-19 di Surabaya sangat rendah dan bisa dikendalikan sejak awal. Dan faktanya hingga hari ini, kota Surabaya menjadi episentrum penularan virus corona yang paling dahsyat.

Begitu pula kita lihat di beberapa RW di DKI Jakarta yang ikut mem-portal jalan masuk kampungnya, dilengkapi dengan posko-posko check-point untuk mengecek suhu tubuh, justru mengalami peningkatan infeksi antar warga masyarakat.

Jika kita bandingkan dengan negara-negara Eropa yang sudah berhasil mengendalikan penularan corona, seperti Italia dan Spanyol…tidak ada pergerakan masyarakat dengan inovasi-inovasi portal seperti ini. Pasca pemerintah Italia dan Spanyol memberlakukan lockdown resmi, masyarakat berada di rumah dan apartementnya masing-masing. Seluruh pengawasan keamanan dilakukan oleh pihak apparat pemerintah yang berwenang dan dilengkapi alat pelindung diri yang terstandarisasi. Dan hari ini…Italia dan Spanyol yang 2 bulan lalu, jungkir balik menghadapi corona…menjadi negara yang kehidupan sosial, ekonomi, olahraga dll nyaris pulih.

Maka. Kita harus belajar ke fenomena terus meningkatnya penularan virus corona di Surabaya. Artinya dapat kita simpulkan, sejauh ini kehadiran portal-portal untuk mencegah penularan virus corona Sangat Tidak Efektif. Bahkan sangat mungkin, posko-posko demikian justru membuat orang Berkumpul, Berkerumun…Ngobrol berjam-jam, apalagi di posko tadi disediakan teh, kopi, cemilan, rokok dan seterusnya yang membuat orang betah berkumpul lama-lama. Sehingga penularan virus pun sangat terbuka potensinya, melalui droplets yang dikeluarkan saat ngobrol, tangan yang mengambil makanan dari piring hingga fenomena menjaga posko lockdown kampung, tapi tidak memakai masker. Atau masker hanya dipake di dagu saja. Jikapun menggunakan masker, seperti yang kita ketahui bersama bahwa masker bedah pun 3-4 jam sekali harus diganti. Jika menunggui posko dari jam 7 pagi hingga jam 12 siang, masker pun sudah tidak efektif lagi untuk menyaring virus.

Belum lagi portal yang harus dibuka dan tutupkan, artinya ada banyak orang yang harus memegang portal tersebut dan sangat mungkin tangan tadi membawa virus. Maka ini jawaban kenapa negara-negara yang sudah berhasil menjinakkan virus covid-19 seperti Italia, Prancis, Jerman, Korea Selatan, Selandia Baru dll tidak ada yang menerapkan sistem ini.
Maka sebaiknya pemerintah-pemerintah daerah segera menginstruksikan masyarakat membongkar bangunan portal tadi untuk mencegah kerumunan. Sementara untuk kota Surabaya, ada baiknya jika pemerintah daerah menginstruksikan masyarakat untuk tidak usah berkerumun di posko portal tadi sesuai protokol WHO…Physical Distancing (jaga jarak), dan Social Distancing (Tidak berkerumun dan membuat kerumunan). Semoga wabah corona segera reda. Amiin ya Allah. ***

Read previous post:
Ada Mayat dan Pendaki Hilang di Jalur Pendakian Lawu

KARANGANYAR (MERAPI) - Seorang tanpa identitas ditemukan tak bernyawa di jalur pendakian Gegerboyo Gunung Lawu, Senin (6/7) pukul 11.30 WIB.

Close