Eucalyptus Melawan Covid-19, Kenapa Menunggu Vaksin…?

BEBERAPA waktu lalu, tim dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian mengembangkan produk inhaler, roll-on, balsem dll antivirus berbahan dasar Eucalyptus. Eucalyptus sendiri adalah tanaman yang sangat populer di masyarakat kita dan sejak lama dikenal sebagai bahan minyak esensial penghangat tubuh dalam berbagai merk produk yang sudah sejak lama beredar di pasaran. Tanaman eucalyptus juga banyak dibudidayakan…dan sudah dikenal sejak zaman nenek moyang kita dengan berbagai istilah. Sayangnya, produk ini tidak mendapatkan respon dari masyarakat luas. Beberapa waktu lalu, para ilmuan di Pusat Penelitian Kimia LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) bekerjasama dengan Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran UI (Universitas Indonesia) dan Kyoto University Jepang, mengembangkan ekstrak daun ketepeng badak sebagai obat herbal antivirus corona. Dan sekali lagi, sayangnya respon masyarakat tidak antusias.

Sepertinya, kita sudah terlanjur memilih jalan menjadi follower trend luar negeri dan mulai bergeser dari kearifan lokal kita sendiri. Apa yang dilakukan oleh orang-orang di luar negeri, kita mesti buru-buru untuk mengikutinya. Provinsi Lombardi di lockdown, masyarakat kita buru-buru mem-portal pintu masuk kampungnya masing-masing. Padahal yang mudik tetap saja bisa mudik. Dan dengan portal-portal itu, apa jaminan masyarakat yang masih terus ke pasar, piknik…ke mana-mana tidak tertular ketika sedang berada di luar kampungnya? Coba kita bandingkan dengan Surabaya, kota “seribu” portal karena di semua gang pasti ada portalnya sejak puluhan tahun yang lalu. Justru Surabaya sekarang adalah episentrum baru covid-19. Dan masyarakat yang mendadak aksesnya diportal pasti merasa terganggu. Mau mulai nyari nafkah, pekewuh ngelewati kerumunan penjaga portal. Apalagi yang mau bisnis online, ojek online sulit untuk masuk. Ekonomi masyarakat pasti terganggu.

Saat Kuwait memutuskan untuk sholat jum’at diganti sholat zuhur, masyarakat kita juga ramai di medsos minta hal yang sama. Saat Amerika dengan bangga mengatakan bahwa mereka punya kemampuan melakukan tes covid-19 hingga 500 ribu tes/ hari…masyarakat kita juga minta hal yang sama. Para epidemiolog yang paling kencang menyuarakan untuk terus meningkatkan kemampuan tes. Jika kita membandingkan dengan Amerika, yang kemampuan tesnya luar biasa dahsyat. Hingga hari ini, tidak membuat kemajuan apapun dalam pengendalian virus covid-19. Bahkan pasca demonstrasi George Floyd…data di Worldometer Coronavirus menunjukkan setelah melewati masa inkubasi pasca demonstrasi Floyd, angka pasien positif baru di amerika naik dari margin 19.000-26.000/hari ke angka di atas 30 ribu/hari. Begitu juga dengan vaksin, kita begitu sibuk menunggu vaksin siap produksi.

Padahal, meski vaksin sudah ada, tentu tidak mudah memvaksin penduduk yang sedemikian banyaknya. Nah, kenapa kita tidak kembali ke kearifan lokal yang sudah diwariskan nenek moyang kita berupa obat-obatan herbal. Nenek moyang kita dulu, bersama-sama penduduk dunia lainnya juga telah melewati berbagai wabah dan mereka tetap eksis hingga ke zaman kita. Jika disebut bahwa belum ada isolat virus covid-19 untuk menguji efektifitas obat-obatan herbal itu, maka itu menjadi tugas para ilmuan untuk sesegera mungkin mengujinya. Saat masyarakat kita akan kembali bekerja, sekolah, kuliah dll…seharusnya mereka dibekali alat perlindungan yang lebih dari sekedar masker dan handsanytizer. Dan produk-produk yang sudah dikembangkan tersebut, seharusnya bisa menjadi solusi sampai vaksin yang menurut WHO baru akan tersedia pada akhir tahun 2021, siap untuk digunakan. Wallahu A’lamu bishawwab. ***

Read previous post:
Kartun Jurukunci, Selasa (30/6/2020)

Close