Protokol New Normal Sholat Jumat

SAAT viral di medsos, seorang muadzin di Kuwait menangis karena harus malafazkan kalimat adzan : Ash Sholatu fi buyutikum (Sholatlah di rumah)…mengganti lafaz Hayya ala sholath (Mari mengerjakan sholat)…medsos kita langsung ramai, meminta agar sholat Jumat diganti dengan sholat Zuhur di rumah masing-masing. MUI kemudian mengikuti arus keinginan ummat. Begitu juga dengan ketika Italia dan negara-negara lain, melakukan Lockdown. Netizen kompak minta lockdown. Saat pemerintah masih merumuskan langkah strategis apa yang tepat, yang akhirnya menjadi PSBB…masyarakat sudah mengambil inisiatifnya sendiri untuk me-Lockdown kampungnya masing-masing.

Nah, sekarang Kuwait…bahkan Iran sebagai negara di kawasan Teluk yang terdampak Corona paling parah, sudah kembali membuka masjid-masjidnya. Pemerintah Saudi Arabia, sudah mulai membuka Masjid Nabawi di Madinah. Pemerintah Uni Emirat Arab bahkan sudah membuka tempat wisatanya. Apa kabar netizen dan masyarakat kita…? Umumnya kita sangat menikmati terus me-Lockdown dan mengunci kampungnya masing-masing, meski sudah tidak ada pemudik yang perlu diantisipasi lagi. Juga menikmati terus mendapat keringanan tidak sholat Jumat ke masjid.

Bulan Juni ini momentum penting, untuk menggerakkan kembali ibadah, ekonomi, pariwisata dan lain-lain. Mungkin untuk aspek pendidikan…bisa ditunda dulu mengingat anak-anak usia sekolah lebih sulit diminta tertib bermasker lama-lama. Tetapi, seharusnya seperti halnya negara-negara lain…kita juga harus mengambil momentum bulan Juni ini.

Spanyol, Italia, Inggris, Jerman bahkan memulai kembali liga sepakbolanya…dan kita tetap memilih menganggur. Bahkan Spanyol sebagai salah satu negara terdampak paling parah…sudah merencanaka pertandingan dihadiri penonton di stadion pada bulan September 2020, dengan jumlah penonton terbatas. Dan diharapkan Januari, liga Spanyol sudah berlangsung normal kembali. Jika kebiasaan masyarakat kita hanya mengekor yang serem-serem saja dari kebijakan luar negeri, dan tidak ikut menjadi follower kebijakan yang baik…maka jika bulan Juni ini kita tidak ikut mengambil momentum untuk segera bangkit, okelah sekarang masih tenang dan santai karena masyarakat masih punya sisa tabungan. Masih merasa bergaya mempertahankan lockdowon kampungnya. Tetapi jika kondisi ini terus dipertahankan, maka besar kemungkinan bulan September saat seluruh dunia bangkit perekonomiannya…peribadahannya, masyarakat kita mayoritas pekerjaannya Cuma menjaga-jaga masuk kampung dan komplek rumahnya…plus jauh dari ibadah.

Saat ini, kerja wajib berbasis target. Seperti bab Sholat Jumat…seharusnya sudah ada rumusan target yang jelas, kapan dan dengan cara seperti apa akan kita mulai kembali. Jika saya boleh usul…okelah bulan juni ini, kita merumuskan cara new normal itu seperti apa. Tapi target harus jelas, agar masyarakat tidak mulai sendiri-sendiri. Jika mereka memulai sendiri-sendiri, secara parsial…sementara yang lain masih tutup, maka sangat mungkin terjadi overload masjid yang artinya tujuan menjaga protokol kesehatan tidak terpenuhi jika jamaah terlalu ramai. Maka jika akan memulai, berbasis target. Seperti 24 Juli 2020, sudah sangat baik untuk memulai sholat Jumat serentak. Dengan serentak, maka jama’ah akan terdistribusi rata dan tidak menumpuk.

Asumsinya, sudah melewati masa 150 hari dari pasien pertama korona tercatat pada tanggal 3 Maret 2020. Kita bisa berharap, semoga penelitian di Arizon State University itu berlanjut, virus Covid-19 terus melemah seiring waktu sehingga tidak menginfeksi manusia lagi. Kita juga bisa berharap, setelah 150 hari angka reproduksi virus sudah di bawah 0,5. Tetapi ikhtiar menjaga kesehatan ummat juga penting. Sebelum serentak dilaksanakan, Masjid-masjid dibersihkan dengan dis-infektan. Dibuat regulasi pemeriksaan suhu tubuh dan wajib bermasker, untuk Khotib dan Jama’ah. Khotib juga dipilih yang usianya di bawah 45 tahun. Untuk jamaah yang sepuh disediakan shaft yang depan…diberi jarak satu shaft dengan yang muda-muda. Insya Allah…jika berbasis target, ummatpun akan mematuhinya. Semoga bermanfaat. Wallahu A’lamu bishawwab.

Read previous post:
TERKAIT DISKUSI CLS FH UGM- JPW Desak Polisi Usut Ancaman Pembunuhan

Close