Mulai dari Buka “Lockdown” Kampung, Saatnya DIY Bangkit

HARUS diakui, bahwa masyarakat DIY adalah barometer dan percontohan nasional. Saat Italia, provinsi Lombardi memberlakukan lockdown untuk mencegah merebaknya virus Covid-19, masyarakat di DIY-pun mulai me-“Lock-Down” kampungnya masing-masing dan kemudian ditiru dan diikuti oleh banyak daerah lain di Indonesia. Meski penggunaan istilah “Lockdown” sendiri sangat tidak tepat, tetapi spanduk-spanduk yang ditampilkan tetap menggunakan istilah “Lockdown”.

Lockdown sebenarnya merujuk kepada system karantina wilayah. Konsekuensinya, yang me-“Lockdown” memiliki kewajiban menyediakan bahan pangan untuk masyarakat yang dikarantinanya. Jika lockdown dilakukan oleh pengurus RT, maka pengurus RT punya kewajiban menyediakan bahan pangan selama karantina RT itu diberlakukan dan seterusnya. Maka, jika muncul terminology lockdown di mana-mana, tetapi masyarakat harus tetap nyari bahan pangan sendiri-sendiri…tentu penggunaan kata lockdown tidak tepat. Dan sedikit banyak, “Lockdown” mandiri ini memberikan dampak psikologis terhadap masyarakat. Kita bisa baca di beberapa tempat di Jawa Timur, Lockdown kampung sampai menimbulkan rasa saling curiga dan saling tutup jalan antar kampung.

Namun demikian, usaha yang dilakukan masyarakat ini untuk melindungi kampungnya masing-masing harus kita puji. Nah, seiring dengan selesainya lebaran…ada baiknya, masyarakat DIY berfikir dan berencana untuk segera bangkit, kerja kembali dalam koridor new normal. Jika membaca spanduk Lockdown…rasanya tetap memberikan efek psikologis yang berat terhadap masyarakat, maka sudah saatnya semangat kerja masyarakat dibangkitkan kembali. Lockdown kampung ada baiknya segera dibuka, karena dasar pemikiran me-lockdown kampung kemarin adalah untuk menolak pemudik. Saat ini momentum lebaran sudah berlalu, artinya pemudik dan arus mudik juga sudah rampung. Tidak ada lagi pemudik yang perlu dicegah masuk kampung. Mungkin yang perlu tetap siaga tingkat tinggi adalah DKI Jakarta dan Jawa Timur, yang harus bersiap menghadapi arus balik.

Sangat baik, jika spanduk-spanduk bertuliskan lockdown diganti dengan spanduk imbauan agar masyarakat tetap disiplin bermasker, jaga jarak, hindari dan jangan membuat acara kerumunan, dan tetap rajin cuci tangan. Jika bulan Juni tiba, kurang lebih masyarakat Indonesia sudah menjalani masa 100 hari pasca ditemukan pasien pertama covid-19 pada 2 Maret 2020 lalu. Artinya, dalam waktu sekitar 3 bulan ini seluruh masyarakat sudah tahu tentang bahaya Covid-19, cara penularannya dan apa yang harus dilakukan. Yang penting sekarang, adalah membangkitkan semangat untuk kembali bekerja sesuai dengan protokol kesehatan/
DIY sendiri, sampai naskah ini ditulis adalah salah satu provinsi dengan penangan corona terbaik di Indonesia. Dari 226 pasien yang positif corona, 123 pasien dinyatakan sembuh.

Artinya, sudah sekitar 54% pasien dinyatakan sembuh. Cluster-cluster yang muncul juga bisa ditangani cukup baik. Namun, jika menggerakkan perekonomian harus menunggu provinsi-provinsi lain yang terdampak cukup parah…seperti aktivitas ekonomi baru bisa efektif dilaksanakan di medio bulan oktober, dengan asumsi jumlah pasien sembuh dapat melampaui pasien baru dalam waktu dekat. Dan tidak banyak masyarakat yang cukup punya tabungan dengan di rumah saja setiap hari, hingga bulan itu tiba. Sehingga, ini menjadi momentum yang baik untuk kembali menggerakkan roda perekonomian di wilayah DIY tentu dengan tetap mengacu kepada protokol kesehatan WHO. Semoga DIY sekali lagi dapat menjadi percontohan, bangkit segera menggerakkan roda ekonomi, industri, pariwisata dengan protokol new-normal. Dan juga tidak lupa, sektor pendidikan tinggi, karena jika tidak segera digerakkan…banyak Perguruan Tinggi Swasta akan bangkrut jika mahasiswa baru tidak bisa mencari kost, karena kampung-kampung masih di lockdown. Aktivitas ke-Agamaanpun harus segera dimulai kembali. Insya Allah semoga wabah ini segera berlalu. Amiin ya Allah. Semoga bermanfaat. Wallahu A’lamu bishawwab. ***

Read previous post:
Bayi Kembar Malang

  PENEMUAN mayat bayi kembar di tempat pembuangan akhir (TPA) Piyungan Bantul beberapa hari lalu sungguh menyayat hati. Dua bayi

Close