Saya (Terpaksa) Khutbah Id dari Rumah di Akun Fesbuk: iipwijayanto

BEBERAPA hari ini, saya berdiskusi intensif via WA dengan panitia hari besar Islam yang sejak Februari 2020 sudah meminta kesanggupan saya untuk menjadi Imam/Khotib di wilayah mereka. Memang di awal Ramadan, seluruh jadwal pengajian cancel…dan saya pribadi mengapresiasi juga mendukung kebijakan takmir-takmir masjid untuk melindungi jamaah dan warga masyarakat agar tidak tertular virus covid-19/corona.

Keputusan untuk meng-cancel acara pengajian buka puasa bersama, tarawieh, kultum subuh, pengajian nuzulul Qur’an dan lain-lain dan menggantikannya dengan ibadah di rumah masing-masing adalah keputusan yang bijak, meski banyak teman-teman ustadz/muballigh mengeluh , mengingat praktis income/pendapatan keluarga di bulan ramadan ini…dan juga bulan sya’ban lalu (berbagai pengajian songsong ramadan di cancel), dan sangat mungkin pula…jika melihat kondisi terkini, berbagai pengajian syawalan juga akan batal semua.

Tapi saya bangga dengan para ustadz/muballigh yang muter dari masjid ke masjid…meski sangat terdampak dengan wabah ini…mereka tidak berusaha mem-viralkan keluhannya di medsos. Cuma bisik-bisik saja antar teman. Itupun, mereka tetap berusaha menepati janji…dengan menyelenggarakan ngaji atau tausiah online di akun Fesbuk, grup WA…instagram, untuk mengisi kekosongan dakwah, dan tentu (di luar ngaji zoom meeting yang diselenggarakan panitia)…biaya kuota juga ditanggung masing-masing.

Nah, dengan sangat berat hati…saya yang kali ini meng-cancel keinginan PHBI untuk terus melanjutkan Sholat Id di Masjid. Saya berusaha memberikan pengertian kepada panitia, bahwa kita sendiri hanya tahu perkembangannya dari media. Artinya, pengetahuan saya tentang perkembangan wabah ini di wilayah DIY sama persis dengan apa yang panitia ketahui. MUI sendiri mempersilakan pelaksanaan sholat Id, di daerah, wilayah atau minimal Kelurahan yang masuk kategori Zona Hijau.

Saya pribadi tidak tahu detil, kelurahan mana saja yang masih Zona Hijau, Putih atau bahkan sudah jadi ZONA Merah. Informasi yang saya ketahui…Dinkes Pusat sudah memasukkan beberapa kabupaten di wilayah DIY ke dalam Zona Merah. Para ahli dari UGM juga menyebut sudah terjadi Transmisi (penularan) lokal. Yang saya baca di media, ada beberapa cluster penularan yang sangat mungkin jadi bagian Jamaah di hari Idul Fitri, yakni Cluster Gowa, Cluster Tabligh Jakarta dan santri Temboro. Untuk 3 cluster ini, meski masih sesekali muncul di data harian,yang di update gugus tugas daerah, tetapi mulai terlihat angka penularannya mengecil.

Sayangnya, muncul pula cluster Perbelanjaan di Jalan Magelang. Saya pernah membaca, bahwa diperkirakan dalam masa inkubasi ada sekitar 15 ribu transaksi. Sementara rapid test massal sendiri dilakukan terhadap 1500 pembeli. Dan sangat mungkin, yang belum sempat di test itu adalah bagian jamaah kita saat sholat Id kelak. Maka, Mendahulukan Kesehatan jamaah adalah yang paling utama bagi saya. Dan untuk memenuhi Janji saya, saya Sholat Id di rumah saja bersama anak-anak saya. Dan Khutbahnya akan saya tayangkan di akun Fesbuk: iipwijayanto. Jamaah merasa butuh menyimak Khutbah Online atau tidak, saya persilakan untuk memilih sendiri. Yang penting, kita berusaha yang terbaik untuk terus berkontribusi menjaga kesehatan masyarakat…dan beribadah dengan aman dari rumah masing-masing. Semoga bermanfaat. Wallahu A’lamu bishawwab. ***

Read previous post:
LazisMu PKU Muhammadiyah Yogyakarta dan Gamping Bagikan THR

GAMPING (MERAPI) - RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta dan PKU Gamping bersenergi dengan Relawan Hadang Bersama Covid 19 LazisMu, menggelar Aksi

Close