Syahrul Mubarak

BULAN Ramadan memiliki banyak keberkahan, keutamaan dan berbagai keistimewaan lain yang tidak dimiliki oleh bulan-bulan lainnya. Pada bulan Ramadhan, doa dan permohonan pengampunan seorang muslim banyak dikabulkan oleh Allah SWT. Ramadhan disebut sebagai syahrul ijabah, bulan dikabulkannya doa. Untuk menunjukkan keistimewaan dan keberkahannya, bulan Ramadhan mendapat sejumlah sebutan : syahru Al-Qur’an (bulan Al Qur’an), syahru at tilawah (bulan bacaan Al Qur’an), syahru ash shabri (bulan kesabaran), Syahru an najah (bulan keselamatan), syahru ar rahmah (bulan kasih sayang), syahru al barkah (bulan yang penuh berkah), syahru al marhamah (bulan kasih sayang), syahru al maghfirah (bulan ampunan), syahru jud (bulan kedermawanan). Disebut juga syahrullah (bulan Allah). Bahkan Nabi SAW menyebutnya dengan kata-kata sayyidu as shuhur (Ratu Segala Bulan). Beliau memberikan komentar seandainya orang-orang itu tahu tentang keunggulan, keagungan dan keberkahan Ramadhan, pasti mereka itu ingin hidupnya dalam bulan Ramadhan terus-terusan. Mereka gembira ketika akan berjumpa dengan Ramadhan dan mereka sedih ketika akan berpisah dengan Ramadhan.

Keberkahan, keunggulan, keagungan serta kemuliaan bulan Ramadhan antara lain; Pertama, puasa Ramadhan merupakan penyebab terampuninya dosa-dosa dan terhapusnya berbagai kesalahan. Ramadhan disebut bulan pengampunan, karena pada bulan ini banyak sekali sebab-sebab turunya pengampunan Allah. Memohon ampunan serta permohonan dihapusnya dosa-dosa yang pernah dilakukan di masa lalu yang dilakukan ketika dalam keadaan berpuasa; ketika berbuka dan ketika makan sahur, termasuk doa yang mustajab, dan Allah SWT malu kalau tidak mengabulkannya. Dalam hal ini, Rasulullah Muhammad SAW bersabda : “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena keimanan dan mengharapkan pahala (dari Allah Subhanahu wa Ta’ala), niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam Shahiih Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu Rasulullah juga bersabda : “Shalat fardhu lima waktu, shalat Jum’at ke Jum’at berikutnya, dan puasa Ramadhan ke Ramadhan berikutnya menghapuskan dosa-dosa yang dilakukan di antara masa tersebut seandainya dosa-dosa besar dijauhkannya”. (HR. Muslim).

Kedua, pada Bulan Ramadhan terdapat satu malam yang lebih baik dan mulia dari seribu bulan, yaitu Malam Lailatul Qadar (Malam Kemuliaan). Kedudukan Lailatul Qadar yang dikatakan lebih baik dari seribu bulan, sebagaimana Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu ? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”. (QS. Al-Qadr, 97 : 1-5). Dan pada malam itu dijelaskan segala sesuatu yang berkaitan dengan segala macam urusan makhluk dengan penuh hikmah. Sebagaimana firman Allah SWT berikut ini : “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah yang mengutuys rasul-rasul”. (QS. Ad-Dukhan, 44 : 3-6).

Ketiga, pada bulan Ramadhan, umat Islam dapat meraih banyak keutamaan dan manfaat puasa yang bersifat ukhrawi maupun duniawi. Puasa untuk meraih ketakwaan, sebagaimana firman-Nya : ”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (QS. Al-Baqarah, 2 : 183). Puasa sebagai sarana pelipatgandaan pahala, sebagaimana Sabda Rasulullah SAW : “Setiap amal yang dilakukan anak Adam akan dilipatgandakan. Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Lalu Allah Azza wa Jalla berfirman, “Kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku-lah yang memberi ganjarannya. Puasa juga merupakan sarana pembinaan akhlak orang-orang yang beriman, sebagaiamana Sabda Rasulullah Muhamma SAW : “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh (terhadap puasanya) walaupun ia meninggalkan makan dan minumnya”. (HR. Bukhari). Semoga kita semua dicatat oleh Allah SWT sebagai umat yang dapat memperoleh keberkahan puasa Ramadhan sekarang ini, di tengah pandemi Covid-19 yang belum jelas sampai kapan akan berakhir. Semoga! ***

Read previous post:
Kartun Jurukunci, Kamis (30/4/2020)

Close