Tetap Ngeyel ke Jakarta, Mudik, Pemerintah Tidak Usah Tanggung Biaya Pengobatan

HARI ini 13 April 2020, setelah beberapa hari menunjukkan tren baik…masyarakat DIY dikejutkan dengan pemberitaan satu keluarga di Bantul yang baru pulang dari wilayah DKI Jakarta, positif terinfeksi Corona. Coba bayangkan, keadaan sudah seheboh ini masih saja hilir mudik ke Jakarta. Dan begitu terinfeksi Corona, seluruh masyarakat DIY akan terkena imbasnya.

Jika keluarga tersebut naik pesawat, maka ada berapa puluh orang yang juga ikut jadi ODP. Keluarganya juga akan ikut jadi ODP. Belum jika sempat kontak dengan tetangga, atau merasakan gejala demam berobat ke dokter praktik swasta…bertambah lagi jumlah ODP. Jika egoi bin ngeyelan seperti ini…maka kapan DIY dan Indonesia bisa bebas dari pandemic Corona sementara ratusan ribu orang sudah berkorban tidak keluar rumah, bahkan juga mungkin banyak yang sudah kehilangan pekerjaannya.

Apa argumentasi ngotot pergi ke Jakarta, padahal semua orang Indonesia sudah tahu bahwa Kawasan DKI Jakarta adalah episentrum penyebaran wabah Corona. Misal, untuk pengobatan. Apakah dokter, bahkan bergelar profesor di Rumah Sakit Sardjito masih kurang?
Seluruh bidang spesialis, Rumah Sakit Sardjito punya. Spesialis Jantung, Paru-paru, Syaraf, Bedah, Orto, Obsgym, Kanker, Mata dan lain sebagainya komplet. Dan pasti, dokter-dokter ahli di Jakarta pun sangat tidak merekomendasikan pasiennya meski sudah berobat rutin untuk tetap ngeyel ke Jakarta dalam kondisi pandemic seperti ini.

Dari minggu ke minggu, saya selalu menulis di rubrik ini…Kunci agar wabah ini segera reda adalah pada diri kita masing-masing. Jika kita tetap ngeyelan, tidak mau mendengar dan mematuhi imbauan Pemerintah…tetap mau hilir mudik ke Jakarta, Kangen Cucu, Liburan, Belanja, Berobat dan lain-lain…maka sehebat apapun regulasi dibuat, tetap saja efeknya tidak akan maksimal. Dan yang rugi…jutaan orang lain. Gara-gara ego 2-3 orang masyarakat satu provinsi terkunci tidak bisa sekolah, tidak bisa sekolah bahkan tidak bisa bekerja. Iya, ada orang-orang yang bekerja di balik meja. Asal ada laptop, kuota internet…pekerjaan beres dan tetap menerima gaji, honor, tunjangan, gaji ke-13. Dan kelompok elite seperti ini, mungkin tidak ada 1% dari demografi kita. Sisanya, nyari duit harus narik penumpang di jalan, pergi ke laut menangkap ikan, menjual hasil pertanian ke pasar dan lain-lain.

Maka, saatnya pemerintah menegaskan untuk mewakili rasa keadilan masyarakat lain yang terus terkena imbas ekonominya akibat perilaku segelintir orang ini. Jangan mereka enak-enakan pelesiran ke Jakarta, pulang sakit dan jadi tanggung jawab pemerintah juga. Jika mereka yang tertular dalam Kawasan DIY…mereka tidak pernah ke luar kota, patuh himbauan…ke luar rumah pun sangat minimal, itu saja yang menjadi tanggung jawab pemerintah. Sementara yang ngeyelan tadi, ataupun yang ngoto tetap mudik sementara sudah dihimbau terus agar tidak mudik…dan ternyata bawa virus korona, maka biaya pengobatannya pemerintah tidak usah tanggung. Semoga dengan cara ini, cluster ngeyelan ini bisa sadar. Wallahu A’lamu Bishawwab. ***

Read previous post:
MERAPI-HUMAS BANTUL Rumah Sakit Lapangan Khusus Covid-19 di gedung bekas Puskesmas Bambanglipuro Bantul.
Bantul Resmikan Operasional RS Lapangan Khusus Covid-19

BANTUL (MERAPI) - Pemerintah Kabupaten Bantul meresmikan beroperasinya rumah sakit lapangan khusus pasien Covid-19, Senin (13/4). Rumah sakit yang didirikan

Close