Tekan Ego ke Jakarta, Jika Rindu Ramadan Normal

TIGA minggu lagi, kurang lebih…ummat ISLAM akan memasuki bulan suci Ramadan. Ramadan adalah bulan yang teramat sangat istimewa bagi ummat Islam, karena di bulan ini suasana ibadah dan kebersamaan terasa lebih hidup. Ada sholat tarawieh berjama’ah, sholat subuh dan kultum yang semarak, buka puasa bersama, pasar takjil di mana-mana dan tentu saja mudik nasional yang menggerakkan migrasi sekitar 15 juta manusia. Nah, mumpung masih 3 minggu lagi…kita berharap wabah Corona segera mereda, sehingga ummat Islam dapat menyongsong bulan suci Ramadan seperti tahun-tahun sebelumnya.

Untuk itu, tentu dibutuhkan kerjasama seluruh elemen masyarakat untuk memutus mata rantai penyebaran virus korona ini. Sebenarnya, jika lockdown DKI Jakarta dan daerah episentrum Corona dapat diberlakukan 2 minggu saja, sesuai riset ilmiah masa inkubasi virus Corona…harapan untuk meredanya korona di daerah-daerah di luar DKI dan Jabar sangat besar. Jateng, DIY, Jatim setidaknya dapat bergerak ke arah kehidupan normal kembali.

Menghentikan arus datang dan pergi dari DKI Jakarta setidaknya mengurangi potensi terinfeksi bagi masyarakat yang berkunjung ke daerah itu, kemudian kembali ke daerah asalnya untuk menyebarkan virus kepada teman dan tetangganya. Sayang harapan kita semua, agar DKI Jakarta di lockdown atau dikarantina wilayah belum ada realisasinya.

Maka, jika keadaannya demikian…masyarakatlah yang harus berperan untuk konsisten tidak mengunjungi DKI Jakarta ataupun masyarakat DKI Jakarta tidak ke luar dulu dari daerahnya hingga wabah ini benar-benar reda. Harus kita akui, bahwa seluruh pasien yang membawa virus (inang) memiliki riwayat kunjungan ke DKI Jakarta. Sayangnya ego terlalu besar, membuat berbagai upaya pemerintah daerah untuk menekan agar virus ini tidak menyebar menjadi cukup sulit. Seharusnya sudah jelas, kondisi seperti ini…media elektronik setiap detik mengimbau Di Rumah Saja…tetap saja banyak yang Ngeyelan untuk berkunjung ke DKI Jakarta. Setelah itu terinfeksi, sakit…pulang ke daerah asal.

Hasilnya daerah asalnya jadi ikut terpapar. Status pun naik jadi KLB. Dampaknya…? Sungguh luar biasa, ratusan ribu orang harus kehilangan pekerjaan, income yang hilang, panik,,,bahkan akan ke luar masuk kampung sendiripun jadi sulit karena karena tidak ada keputusan dari pemerintah daerah untuk mencegah arus pengunjung DKI Jakarta datang, kampung-kampung terpaksa “Mengarantina” kampungnya sendiri. Pemerintah mengimbau agar masyarakat tidak ke luar rumah, bahkan jika perlu belanja kebutuhan pokok secara online. Bagaimana konsep ini bisa berjalan, jika ojek online tidak diizinkan masuk kampung. Nah, kita berharap semuanya bisa menahan egonya untuk tidak ke DKI Jakarta dulu…apalagi mereka yang pintar-pintar, bergelar doctor, professor hendaknya menjadi teladan bagi masyarakat untuk mematuhi imbauan pemerintah agar di rumah saja dulu. Semoga dengan cara demikian, ALLAH SWT mengizinkan wabah segera reda dan seluruh ummat Islam bisa menyongsong Ramadan seperti tahun lalu. Wallahu a’lamu bishawwab. ***

Read previous post:
Peternak Gunungkidul Didorong Kembangkan Pakan Alternatif

WONOSARI (MERAPI) - Pemerintah Kabupaten Gunungkidul mendorong peternak mengembangkan pakan ternak alternatif dalam rangka mendukung swasembada ternak di wilayah tersebut.

Close