Meraih Takdir Ilahi

ISLAM adalah agama fitrah, yaitu sesuai dengan tuntutan pembawaan watak penciptaan manusia (QS Ar-Rum, 30: 30). Islam adalah agama yang menempatkan manusia sebagai makhluk yang berkepribadian (mempunyai harga diri), bebas bertanggung jawab atas prilakunya. Manusia adalah makhluk mulia dan sesuai dengan kemuliaannya itu ia diberikan fungsi yang mulia pula khalifah Allah di muka bumi. Untuk tugas itu manusia diberi potensi dan kemampuan akal dan jiwa atau hati nurani untuk mempertinggi martabatnya sebagai makhluk yang mulia. Manusia tidak terbebani tanggungjawab atas perbuatan orang lain. Apa yang dilakukan manusia dalam peluang itu akan menjadi kenyataan jika Allah mengiyakan (qadar-ijin) untuk terjadi. Kejadian tersebut itulah yang disebut sebagai takdir ilahi, yakni ketentuan suatu peristiwa yang terjadi karena pilihan makhlukitu sendiri, yang akan dipertanyakan dan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah di akhirat kelak.

Orang-orang beriman memahami takdir sebagai bagian dari tanda kekuasaan Tuhan yang harus diimani sebagaimana dikenal dalam Rukun Iman. Untuk memahami konsep takdir, jadi umat Islam tidak dapat melepaskan diri dari dua dimensi pemahaman takdir. Kedua dimensi dimaksud ialah dimensi ketuhanan dan dimensi kemanusiaan. Dimensi ketuhanan merupakan sekumpulan ayat-ayat dalam Al-Quran yang menginformasikan bahwa Allh Maha Kuasa menciptakan segala sesuatu termasuk menciptakan takdir; sebagaimana firman-firman-Nya : “Dia (Allah) telah menciptakan segala sesuatu dan sungguh telah menetapkannya (takdirnya)”. (QS Al-Furqan 25:2). “Apakah kamu tidak tahu bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan bumi. Sesungguhnya itu semua telah ada dalam kitab, sesungguhnya itu sangat mudah bagi Allah”. (QS Al-Hajj, , 22:70). “Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya “. (QS Al-Maidah, 5:17). “Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat”. (QS As-Safat 37:96).

Sedangkan dimensi kemanusiaan merupakan sekumpulan ayat-ayat dalam Al-Quran yang meginformasikan bahwa Allah memperintahkan manusia untuk berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencapai cita-cita dan tujuan hidup yang dipilihnya. Firman Allah SWT : “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri, dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia”. (QS Ar-Ra’d, 13:11). “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, Nasrani, Shabiin (orang-orang yang mengikuti syariat Nabi zaman dahulu, atau orang-orang yang menyembah bintang atau dewa-dewa), siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan beramal saleh, maka mereka akan menerima ganjaran mereka di sisi Tuhan mereka, tidak ada rasa takut atas mereka, dan tidak juga mereka akan bersedih”. (QS Al-Baqarah, 2:62).

Ada beberapa hikmah yang dapat diambil dari keimanan kita kepada takdir ilahi; diantaranya : (1) melahirkan kesadaran bahwa segala sesuatu berjalan sesuai dengan undang-undang atau hukum Allah. Manusia harus mempelajari hal itu hukum Allah itu, (2) mendorong beramal sungguh-sungguh sesuai hukum sebab akibat (kausalitas), (3) mendorong mendekatkan diri kepada Allah yang memiliki kekuasaan dan kehendak mutlak, (4) menanamkan sikap tawakkal pada dirinya, manusia hanya berusaha dan berdo’a, hasilnya diserahkan kepada-Nya. (5) mendatangkan kenteraman jiwa, karena sadar apapun yang terjadi atas kehendak dan qadar Allah. Manusia dalam berusaha harus mendekatkan diri dan berdo’a kepada Allah agar usahanya masuk ke peluang yang telah ditetapkan. Kedekatan dan do’a kepada Allah akan menentukan usaha manusia masuk kepada peluang yang telah ditetapkan Allah dan juga menentukan usaha manusia untuk berhasil melebihi di atas usaha yang telah dilakukan. Semoga! ***

Read previous post:
DARAH KI JURU TAMAN (11) – Kekuatan Pangeran Silarong Makin Mengkhawatirkan

Pangeran Silarong sanggup menyembuhkan penyakit Angga Brangsa, namun sebelum diobati ia minta dipijit dahulu meski hanya sebentar. LAGI asyik-asyiknya mereka

Close