Bahagia

HIDUP penuh misteri. Hidup ini penuh kesulitan dan tantangan yang silih berganti. Hidup laksana “cakra manggilingan” atau roda pedati yang selalu berputar, kadang di atas dan suatu saat terperosok ke bawah, yang tidak mudah untuk bangkit kembali. Memasuki Tahun Baru 2020 ini, tantangan dan kesulitan yang kita hadapi juga tidak semakin sedikit, melainkan semakin besar lagi komplek. Semua tergantung bagaimana seseorang dalam menghadapinya; menghadapi dengan penuh kebahagiaan dan kenyamanan ataukah dengan berkeluh kesah berkepanjangan. Orang Islam sudah diajari untuk meraih kebahagiaan dunia akhirat, sebagaimana firman-Nya : “Dan di antara mereka ada orang yang berdoa, Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa api neraka” (QS Al-Baqarah, 2 : 201).

Doa di atas dikenal dengan istilah doa sapujagat, yang hampir semua orang Islam telah hafal luar kepala. Untuk merealisasikan doa sapujagat yang telah dihafalnya dalam kehidupan sehari-hari, dapat ditempuh dengan beberapa cara; Pertama, jangan terlalu lihat ke atas, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW : “Lihatlah orang yang ada di bawahmu dan jangan melihat orang yang ada di atasmu, sebab itu lebih baik agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah” (HR Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah). Kedua, jangan bandingkan diri dengan orang lain, sebagaimana firman-Nya : “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagiaan kamu lebih banyak dari sebahagiaan yang lain” (QS An-Nisa, 4:32). Iri dan dengki atas capaian orang lain akan menjadikan hidup ini selalu tersiksa, penuh dendam dan akhirnya putus asa dari rahmat Allah.

Ketiga, jangan kaitkan kebahagiaan dengan orang lain. Ada fenomena di kalangan pemuda yang patah hati karena cintanya ditolak dengan mengatakan saya tidak bisa hidup tanpa dia atau tidak ada wanita lain sebaik dan secantik dia. Inilah contoh sikap mengkaitkan kebahagiaan dengan orang lain. Padahal yang membuat seseorang bahagia adalah Allah SWT, sebagaimana firman-Nya : “Dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis” (QS An-Najm, 53:43). Keempat, hidup sederhana. Sederhana adalah istilah lain dari bahagia. Bahagia adalah sederhana, sederhana adalah bahagia. Kalau ingin bahagia harus sederhana dalam hidup. Yang membuat hidup seseorang menderita, sempit dan menghimpit bukan karena kebutuhan hidup yang tidak terpenuhi, melainkan gaya hidup. Dengan hidup sederhana, seseorang secara tidak langsung telah menyederhanakan masalah menjadi lebih mudah dan simpel.

Kelima, berbaik sangka (husnudzan) kepada Allah. Orang yang beriman harus memiliki keyakinan bahwa pemberian Allah kepada kita sekarang ini adalah yang terbaik baginya. Bahkan jika suatu saat dipanggil menghadap-Nya tetap dianjurkan husnudzan kepada Allah SWT. Sabda Rasulullah Muhammad SAW : “Janganlah seorangpun di antara kalian yang mati kecuali dalam keadaan berhusnudzan kepada Allah” (HR Muslim dan Abu Daud). Keenam, qanaah, yakni ridha terhadap segala yang telah Allah berikan. Tanpa qanaah ini paras menawan, jabatan terpandang, dan harta yang melimpah tidak mampu menutupi galau dan gelisah yang selalu menghantui. Hadits berikut ini menggambarkan betapa hebatnya sikap qanaah : “Siapa di antara kalian yang bangun di pagi hari dalam kondisi aman, tubuhnya sehat, dan memiliki makanan untuk hari tersebut, maka seakan-akan dunia seluruhnya telah diberikan untuknya” (HR Bukhari dan Tirmidzi). ***

Read previous post:
Perluas Pemasaran Ecoprint Lewat Bazar

PELAKU UMKM banyak berharap, pada 2020 ini bisa lebih sukses usahanya dibanding tahun-tahun sebelumnya. Salah satu ikhtiar agar bisa lebih

Close