Masa Depan BBM Kita…

KITA bisa melihat BOOMING kendaraan bermotor. Kemudahan sistem kredit kepemilikan kendaraan bermotor,benar-benar telah membuat penuh sesak jalan raya. Pemandangan anak-anak di bawah umur menggunakan sepeda motor adalah pemandangan yang lazim kita lihat. Para ibu yang menggunakan MOGE (Motor Gendut) jenis Matic. Dan lain sebagainya. Belum lagi jika ada pertandingan sepak bola, dari kelas tarkam (antar kampung) hingga level liga nasional, para supporter tumpah ruah menggeber sepeda motornya. Bagi mereka (para supporter), tidak ada peraturan lalu lintas. Jika tim kesayangannya menang, mereka berkonvoi dengan mengintervensi pengguna jalan yang lain. Jika tim kesayangannya kalah, merekapun mengamuk dan menimbulkan dampak kerugian bagi anggota masyarakat lainnya. Belum lagi jika masa pemilu dan pilkada tiba. Beberapa waktu ke depan, akan segera digelar PILKADA serentak di berbagai kota. Pastilah situasi kampanye akan menjadi semarak bagi para pendukung, tetapi terasa mencekam bagi masyarakat yang tidak ikut berpolitik praktis. Akan banyak pengerahan konvoi motor di jalanan. Dan ke semuanya butuh BBM (Bahan Bakar Minyak) untuk menggerakkan berbagai jenis kendaraan tersebut.

Pertanyaannya, bagaimana nasib BBM kita ke depannya…jika gaya hidup masyarakat kita tetap seperti ini dengan BBM…? In-efisiensi, jauh lebih besar daripada penggunaan BBM untuk kegiatan perekonomian. Coba saja para ahli menghitung, berapa banyak BBM yang terbuang percuma untuk aktivitas balapan liar, konvoi pendukung dan supporter sepak bola, touring geng motor antar kota, anak-anak di bawah umur yang difasilitasi sepeda motor oleh orang tuanya. Ribuan liter BBM terbuang percuma. Pada sisi yang lain, nelayan kesulitan mencari BBM murah untuk melaut, home industri juga kebingungan menekan biaya operasional BBMnya untuk kegiatan produksi dan lain sebagainya.

Coba kita bandingkan dengan negara Asia lainnya seperti Jepang yang masyarakatnya meski negaranya adalah negara produsen otomotif paling maju di Asia, tetap keukeuh dengan tradisi ngantor dan ke sekolah jalan kaki. Singapura juga demikian, para CEO perusahaan terkemuka dengan santai berangkat kerja jalan kaki. Malaysiapun demikian. Nah, jika pemakaian BBM tidak bisa ditekan sejak sekarang…maka bisa jadi dua dasawarsa ke depan kita akan mengalami krisis BBM serius. Dan kuncinya kembali kepada kesadaran warga negara untuk menyadari bahwa masa depan BBM ada di tangan mereka. Penggunaan kendaraan bermotor silahkan saja sejauh fungsional dan produktif. Tetapi aktivitas in-efisien seperti konvoi kampanye, konvoi supporter bola, balapan liar, geng motor touring antar kota, dan pemakaian kendaraan bermotor untuk anak di bawah umur, hendaknya segera dihentikan. Wallahu A’lamu bishawwab. ***

Read previous post:
ilustrasi
KASUS PELAJAR BACOK PELAJAR-Dua Siswa SMP Jadi Tersangka

YOGYA (MERAPI)- Setelah dilakukan pemeriksaan secara intensif, polisi akhirnya menetapkan dua orang pelajar anggota gerombolan klitih sebagai tersangka kasus pembacokan

Close