ROJA’

Roja’ menurut bahasa artinya berharap, sedangkan menurut istilah ialah dengan senang hati menunggu sesuatu yang dicintai setelah syarat-syarat yang mampu diusahakan telah terpenuhi. Roja’ berarti mengharapkan sesuatu dari Allah SWT. Dengan kata lain mengharapkan sesuatu yang mungkin dicapai dengan berusaha untuk memenuhi syarat-syarat yang diminta. Ketika berdo’a maka seseorang harus penuh harap bahwa do’a kita akan dikabul oleh Allah SWT, sebagaimana firman-Nya: “Dan Tuhanmu berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu” (QS al-Mukmin (40) : 60). Dalam ayat yang lain; “Dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS al-A’raf [7]: 56). Berkaitan dengan hal ini, Ibnul Qoyyim berkata : “..bahwa roja` tidak akan sah kecuali jika dibarengi dengan amalan. Oleh karena itu, tidaklah seseorang dianggap mengharap apabila tidak beramal”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: “Ketahuilah sesungguhnya penggerak hati menuju Allah ‘azza wa jalla ada tiga: Al-Mahabbah (cinta), Al-Khauf (takut) dan Ar-Roja’ (harap). Yang terkuat di antara ketiganya adalah mahabbah (rasa cinta), sebab rasa cinta itulah yang menjadi tujuan yang sebenarnya. Hal itu dikarenakan kecintaan adalah sesuatu yang diharapkan terus ada ketika di dunia maupun di akhirat. Berbeda dengan takut, yang mana hal itu nanti akan lenyap di akhirat (bagi orang yang masuk surga). Allah ta’ala berfirman, “Ketahuilah, sesungguhnya para wali Allah itu tidak ada rasa takut dan sedih yang akan menyertai mereka (QS Yunus (10) : 62). Sedangkan rasa takut yang diharapkan adalah yang bisa menahan dan mencegah supaya (hamba) tidak melenceng dari jalan kebenaran. Adapun rasa cinta, maka itulah faktor yang akan menjaga diri seorang hamba untuk tetap berjalan menuju sosok yang dicintai-Nya. Langkahnya untuk terus maju meniti jalan itu tergantung pada kuat-lemahnya rasa cinta yang dimiliki oleh seseorang.

Para ulama mengatakan: “Hendaknya orang yang sehat memperbesar rasa takutnya kepada Allah SWT, sedangkan orang yang sedang sakit memperbesar rasa harap.” Sebabnya adalah orang yang masih sehat apabila memperbesar rasa takutnya maka dia akan jauh dari perbuatan maksiat. Dan orang yang sedang sakit apabila memperbesar sisi harapnya maka dia akan berjumpa dengan Allah dalm kondisi berbaik sangka kepada-Nya. Apabila seseorang dikhawatirkan dengan lebih condong kepada takut membuatnya berputus asa dari rahmat Allah maka hendaknya ia segera memulihkan harapannya dan menyeimbangkannya dengan rasa harap. Dan apabila dikhawatirkan dengan lebih condong kepada harap maka dia merasa aman dari makar Allah maka hendaknya dia memulihkan diri dan menyeimbangkan diri dengan memperbesar sisi rasa takutnya. Pada hakikatnya manusia itu adalah dokter bagi dirinya sendiri apabila hatinya masih hidup. Adapun orang yang hatinya sudah mati dan tidak bisa diobati lagi serta tidak mau memperhatikan kondisi hatinya sendiri maka yang satu ini bagaimanapun cara yang ditempuh tetap tidak akan sembuh.

Sehubungan dengan akhlak terpuji roja’ ini, Rasulullah SAW bersabda: “Dari Anas RA, ia berkata, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: Allah berfirman, “Wahai anak Adam!, sesungguhnya engkau selama berdoa dan berharap kepada-Ku, maka Aku pasti akan memberikan ampunan kepadamu atas segala dosa-dosamu dan Aku tidak akan peduli. Wahai anak Adam!, andaikata dosa-dosamu sampai ke langit kemudian engkau memohon ampunan kepada-Ku, maka pasti Aku akan memberikan ampunan kepadamu. Wahai Anak Adam!, jika engkau datang kepada-Ku dengan membawa kesalahan sepenuh bumi, kemudian engkau bertemu dengan-Ku, tapi engkau tidak menyekutukan-Ku sedikit pun, maka pasti Aku akan datang kepadamu dengan membawa ampunan sepenuh bumi.” (HR. at- Tirmidzi).

Orang yang beriman dalam menghadapi hidup hendaknya memiliki perilaku-perilaku terpuji salah satunya yaitu perilaku roja’. Sesungguhnya Allah memerintahkan manusia untuk berperilaku roja’ yang hanya ada pada diri orang yang beramal taat kepada Allah dan berharap pahala-Nya, adapun roja’ tanpa disertai amalan adalah roja’ yang palsu, angan-angan belaka dan tercela. ***

Read previous post:
MERAPI-ANTARA Kwintarto Heru Prabowo.
DINPAR BANTUL: Kembangkan Event untuk Wisman

BANTUL (MERAPI) - Dinas Pariwisata (Dinpar) Kabupaten Bantul, menginventarisasi kegiatan rutin unggulan untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata, terutama untuk

Close