Hikmah Ibadah Haji

SETIAP musim haji, pada tanggal 10 Dhulhijjah jamaah haji dari seluruh dunia berkumpul di Mina setelah pada tanggal 9 Dhulhijjah mereka wukuf di Padang ‘Arafah. Mereka semua memakai pakain putih yang tidak dijahit yang dinamakan pakaian ihram, pakaian yang mengingatkan bahwa mereka semuanya memiliki kedudukan yang sama di hadapan Allah SWT. Mereka semua berkumpul di Tanah Suci Mekkah Al-Mukarramah karena melaksanakan panggilan Allah sebagaimana firman-Nya : ”Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai onta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebagian daripadanya dan (sebagaian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir “ (QS Al-Hajj:27-28).

Ada beberapa hikmah yang bisa dipetik dari pelaksanaan ibadah haji sebagai Rukun Islam yang kelima, yakni : Pertama, merupakan wujud dari semangat ketaatan melaksanakan perintah Allah SWT. Ibadah haji kadang sulit difahami oleh akal, tetapi karena taat kepada Allah, kaum muslimin mengerjakannya dengan penuh semangat tanpa memikikan ibadah itu dengan akalnya. Keyakinan akan perintah Allah yang pasti benar, dan dilakukan dengan penuh kepatuhan, merupakan kunci kebenaran orang beragama. Kedua, tertanamnya semangat meneruskan pengorbanan yang telah dirintis oleh Nabi Ibrahim AS. Tertanam keyakinan di hati umat Islam bahwa perjuangan menegakkan kebenaran para pendahulu kita lebih besar dan lebih berat dibandingkan dengan kita sekarang ini. Tergambar dengan jelas di dalam ibadah haji itu betapa sulit dan beratnya memperjuangkan kebenaran yang diyakininya.

Ketiga, tertanamnya kedisiplinan hidup. Dalam kehidupan dunia sekarang yang sangat kompleks dan rumit ini, nilai-nilai kedisiplinan sudah tergradasi sampai ke titik nadzir. Ibadah haji mengingatkan kita untuk membangun kembali nilai-nilai kedisiplinan yang memudar itu. Mereka berpakaian dengan pakaian ihram yang sama dan sangat sederhana, wukuf di Padang Arafah di teriknya matahari, melempar dengan batu kecil (kerikil), dan seluruh rangkaian peribadatan yang lain, adalah latihan-latihan hidup dengan penuh kedisiplinan. Ibadah haji memberikan teguran kepada orang-orang yang beriman tentang pentingnya disiplin ditegakkan dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Suatu cita-cita luhur dan harapan hidup yang lebih baik hanya dapat diraih dengan adanya disiplin yang tinggi. Kedisiplinan inilah yang merupakan prasyarat penting bagi terciptanya masyarakat yang teratur dan mensejahterakan warganya.

Keempat, ibadah haji menumbuhsuburkan semangat kebersamaan. Mereka yang berkumpul di Mina dan wukuf di Padang ‘Arafah berasal dari berbagai penjuru dunia, dari berbagai lapisan masyarakat, dari berbagai ras dan suku bangsa, berkumpul dengan pakaian yang sama, tingkah laku yang sama. Perilaku yang seperti ini jelas akan menumbuhkan semangat kebersamaan di antara mereka. Hasrat kebersamaan di antara mereka antara lain diwujudkan dalam bentuk penyembelihan hewan kurban, yang juga dilaksanakan oleh umat Islam di seluruh dunia di tempat mereka masing-masing. Ibadah kurban mengajarkan kepada manusia bahwa untuk mencapai cita-cita yang luhur dan bermanfaat harus melalui banyak pengorbanan dan pengabdian. Ibadah haji yang bersifat vertikal dalam arti untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT, bersamaan dengan itu juga harus meningkatkan semangat ukhuwah dan kebersamaan.

Semoga Allah memberikan predikat mereka yang berkesempatan melaksanakan ibadah haji tahun ini dengan predikat haji yang mabrur, yang kemabrurannya akan menambah kemanfaatan sepulang ke tanah air. Dan bagi yang belum berkesempatan berangkat pada tahun ini semoga dimudahkan untuk berhaji pada tahun-tahun yang akan datang. Insya Allah. (*)

Read previous post:
Festival Budaya Lembah Baliem Ajang Promosi Noken Suku Hubula

WAMENA (HARIAN MERAPI) - Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) jelas memiliki fungsi penting bagi Papua. Kehadirannya bukan saja menjadi atraksi

Close