Tips Memilih Hewan Kurban

IDUL ADHA atau juga sering disebut sebagai hari raya kurban sudah semakin mendekat. Para shohibul kurban dan panitia kurban mulai berburu hewan kurban yang sehat dan layak konsumsi. Selain itu, semakin mendekati hari H…maka harga hewan kurban akan semakin melonjak, sementara opsipun menjadi semakin sedikit. Sehingga sangat wajar jika geliat bursa hewan kurban mulai terasa. Untuk kita ketahui bersama, bahwa ibadah kurban adalah sebuah ibadah yang ketentuannya diatur dengan detil dan terperinci.

Tujuannya adalah maslahat, khususnya bagi para mustahiq (yang berhak menerima). Agar jangan sampai kegembiraan yang hadir berujung dengan munculnya berbagai keluhan penyakit, karena hewan kurban yang dimakan ternyata tidak memenuhi standar yang diatur dalam syari’at.

Rasulullah SAW bersabda: “Empat macam hewan yang TIDAK SAH dijadikan kurban: (1).Rusak matanya, (2). Sakit, (3).Pincang, (4).Kurus yang tidak berlemak lagi.” {H.R.Ahmad}.

Seluruh tanda yang Rasulullah SAW sebutkan diatas, secara ilmiah telah dibuktikan oleh para ilmuan sebagai indicator bahwa hewan ternak tersebut tidak sehat dan tidak layak konsumsi. Padahal pada seekor hewan ternak yang sakit, bahkan sebelum dikonsumsipun sudah dapat menularkan penyakit seperti misalnya penyakit BRUCELLOSIS yang biasanya ditemukan pada kambing dan sapi. Hewan ternak yang terinfeksi bakteri BRUCELLA ini dapat menularkan penyakit tersebut melalui urin dan berbagai cairan tubuhnya.

Padahal hewan kurban juga membutuhkan waktu pemeliharaan sebelum waktu digunakan, sehingga kontak antara manusia dan hewan kurban adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari. Selain itu kita juga mengenal penyakit CACING PITA (taeniasis/sistiserkosis). Penularannya tidak mesti melalui konsumsi daging yang kurang matang, tetapi juga melalui kotoran hewan ternak tersebut. Indikator zahir yang paling mudah untuk mendeteksi hewan yang terkena penyakit cacing pita ini, dapat dilihat dari postur tubuhnya yang KURUS dan TIDAK BERLEMAK, pincang, sakit mata seperti yang dijelaskan Rasulullah SAW dalam hadiest tersebut.

Peraturan agar seluruh hewan ternak mengantongi sertifikat layak yang dikeluarkan oleh dokter hewan adalah baik adanya. Dengan catatan bahwa prosedur pemeriksaan benar-benar dilakukan secara tertib dan standar. Sehingga ibadah kurban yang dilakukan, menjadi pahala bagi shohibul kurban, menjadi pahala pula bagi panitian kurban, dan menjadi kegembiraan bagi yang menerima daging hewan kurban. Dan setelah selesai ibadah kurban, semuanya tetap sehat bahkan menjadi lebih sehat lagi. Wallahu A’lamu bishawwab. (*)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
150 PNS Sleman Ikut Tes Urine

SLEMAN (MERAPI) - Pemerintah Kabupaten Sleman bekerjasama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Sleman melaksanakan sosialisasi Pecegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan

Close