Stres Zonasi

DI DALAM sebuah hadist, Rasulullah SAW bersabda: “Idza matal insanu qota’u anhu ‘amaluhu illa min tsalasa . shodaqatin jariyyath, aw ‘ilmin yantafa’u bihi. Aw waladin salihin yad’ulahu (Jika manusia mati, terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga hal. Sedekah jariyah, ILMU yang BERMANFAAT dan DOA dari ANAK-ANAK yang saleh).” {H.R.Muslim}. Hadist ini merupakan petunjuk bagi setiap manusia yang menekankan betapa pentingnya arti ilmu yang bermanfaat dan doa dari anak-anak yang soleh. Artinya, memberikan pendidikan yang terbaik kepada putera-puteri kita adalah sebuah kewajiban karena anak adalah bekal dunia akhirat bagi orang tuanya.

Anak-anak yang akan merawat orang tuanya ketika mereka telah tua renta. Anak-anak yang akan melanjutkan kebaikan orang tuanya di dunia. Dan anak-anak yang akan terus mendoakan orang tuanya di alam barzah, memperkenalkan orang tuanya kepada anak cucu dan keturunannya sehingga doa terkirimkan kepada orang tuanya oleh garis keturunannya hingga yaumil kiyamath.

Sangat wajar jika kemudian munculnya peraturan ZONASI sekolah ini membuat para orang tua stress dan kalang kabut. Dulu, di zaman saya masih kecil…di bawah komando menteri pendidikan dan kebudayaan sangat legendaris Prof.Fuad Hassan (menjabat dari tahun 1985-1993), situasi pendidikan nasional terasa sangatlah kondusif. Pembangunan pendidikan nasional sangat terasa kala itu. Guru-guru terus dilatih dan ditingkatkan kemampuannya. Metode-metode pengajaran yang teruji diterapkan. Dan sistem yang dibuat melangkah pada satu jalur yang pasti. Filosofisnya, semua anak-anak bangsa berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Asal dia mau bekerja keras, memiliki prestasi maka dia bisa sukses. Itu saja kuncinya.

Di zaman ini, banyak keajaiaban bisa terjadi. Para petani, buruh…bisa mengubah nasibnya melalui anak-anaknya yang bisa sekolah di manapun. Bisa kuliah dengan biaya sangat murah. Adalah biasa kala itu, dari kelas ekonomi menengah ke bawah dalam perjalanannya bisa menghasilkan anak-anak berprofesi insinyur, ekonom, teknokrat, dokter dan lain sebagainya. Anak yang cerdas dan berprestasi, tidak akan membuat susah orang tuanya. Asal dia mau berusaha, sistem menyambutnya dengan tangan terbuka. Dan saat ini? Pintar saja tidak cukup. Jika mau sekolah di sekolah yang bagus, tidak harus pintar-pintar banget yang penting rumah dekat sekolah favorit. Atau orang tua sangat berduit,bisa menyekolahkan anak-anaknya di sekolah sawasta yang mahal. Dan hasilnya? Orang tua stress. Sebuah sistem lama, selama itu baik…kenapa harus diubah-ubah, coba-coba dengan sistem baru yang banyak mudharotnya. Semoga ada keajaiban untuk anak-anak kita di tahun ini, dan tahun-tahun yang akan datang. Wallahu A’lamu bishawwab.

Read previous post:
ilustrasi
Klitih di Mana-mana

AKSI klitih ternyata tak hanya terjadi di Yogya. Di Magelang, tepatnya di Jalan Pemuda Barat Desa Taman Agung Muntilan, lima

Close