Iman Kepada Allah

IMAN kepada Allah SWT adalah rukun iman yang pertama. Rukun pertama ini sangat penting dan memiliki kedudukan tertinggi dalam Islam. Dimana dalam rukun tersebut, dijelaskan bahwa iman kepada Allah subhanhau wa ta’ala adalah mempercayainya, meyakininya dengan sepenuh hati. Wujud (adanya) Allah adalah sesuatu yang kebenarannya perlu dalil pembuktian, tetapi karena sudah sangat umum dan mendarah daging maka kebenaran itu tidak lagi perlu pembuktian. Namun demikian untuk membuktikan wujud-Nya dapat dikemukakan beberapa dalil, antara lain: Pertama, dalil fitrah. Allah menciptakan manusia dengan fitrah ketuhanan. Apabila menusia menghadapi sesuatu kejadian yang luar biasa, dan dia sudah kehilangan segala daya untuk menghadapinya, bahkan sudah putus asa, barulah secara spontan fitrahnya tersebut kembali muncul, mencari (bantuan) Tuhan.

Kedua, Dalil Naqli. Sekalipun secara fitrah manusia bisa mengakui adanya Tuhan dan dengan akal pikiran bisa membuktikannya, namun manusia tetap memerlukan dalil naqli (Al-Qur’an dan Sunnah) untuk membimbing mengenal Tuhan yang sebenarnya. (Allah) dengan segala nama dan sifat Nya. Sebab fitrah dan akal tidak bisa menjelaskan Tuhan yang sebenarnya itu.

Ketiga, dalil akal. Dalil akal adalah dalil dengan menggunakan akal pikiran untuk merenungkan dirinya sendiri, alam semesta dan lain-lain seseorang bisa membuktikan tentang adanya Allah.

Upaya membuktikan adanya Allah lewat perenungan terhadapa alam dengan segala isinya dapat menggunakan beberapa teori hukum (qanun), antara lain: Pertama, qonun al-Illah. Illah artinya sebab; segala sesuatu ada sebabnya. Sesuatu yang ada tentu ada sebabnya. Siapakan yang mengadakan alam ini?

Kedua, Qunun al-Huduts. Huduts artinya baru. Alam semesta seluruhnya adalah sesuatu yang huduts (baru, ada awalnya) bukan sesuatu yang qadim (tidak berawal). Kalau huduts, tentu ada yang mengadakannya. Dan yang mengadakan itu haruslkah yang bersifat qadim.

Ketiga, Qanun An-Nidzam. Nidzam artinya teratur. Alam semesta dengan segala isinya adalah sesuatu yang sangat teratur. Sesuatu yang teratur tentu ada yang mengaturnya, mustahil menurut akal semuanya itu teratur dengan sendirinya secara kebetulan.

Esensi iman kepada Allah adalah Tauhid yang mengesakan-Nya, baik dalam zat, sifat-sifat maupun segala perbuatan-Nya. Esa dalam zat-Nya, artinya Allah tidak tersusun dari berbagai unsur. Esa dalam sifat-sifat-Nya artinya hanya Allah yang berhak memiliki sifat-sifat kesempurnaan. Esa dalam perbuatan-Nya artinya Allah berbuat segala sesuatu tanpa ada yang membantunya.

Berdasarkan tahapannya tauhid dapat dibagi kepada: 1) Tauhid Rububiyah, artinya mengimani bahwa Allah sebagai satu-satunya Tuhan (Rabbun). 2) Tauhid Mulkiyah, artinya mengimani bahwa Allah sebagai satu-satunya penguasa, Raja (Malik). 3) Tauhid Ilahiyah, artinya mengimani Allah bahwa Allah sebagai satu-satunya Ilah yang berhak disembah. “Tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia” (QS Al-Ikhlas:4).

Antara ketiga dimensi tauhid di atas dapat berlaku dua teori (dalil): Pertama, dalil At-Talazum. Talazum artinya satu keharusan (mestinya). Maksudnya, setiap orang yang meyakini Tauhid Rububiyah semestinya meyakini Tauhid Mulkiyah dan orang meyakini Tauhid Mulkiyah semestinya meyakini Tauhid Ilahiyah. Dengan kata lain Tauhid Mulkiyah merupakan konsekuensi logis dari Tauhid Rububiyah dan Tauhid Ilahiyah merupakan konsekuensi logis dari Tauhid Mulkiyah. Kedua, dalil At-Tadhamun. Tadhamun artinya cakupan. Maksudnya setiap orang yang sudah sampai kepada Tauhid Ilahiyah tentunya sudah melalui dua tauhid sebelumnya. Kenapa dia beribadah kepada Allah ? karena Allah Rajanya. Kenapa Allah Rajanya ? karena Allah adalah Rabb nya (Tuhannya). Keimanan kepada Allah dengan pemahaman yang seperti inilah yang melahirkan generasi Rabbani yang memiliki keimanan yang kuat dan menjadi umat pilihan di muka bumi ini. ***

Read previous post:
FESTIVAL DALANG ANAK DAN REMAJA – Disbud Bantul Beri Ruang Regenerasi Dalang

SEWON (MERAPI) - Dinas Kebudayaan (Disbud) Bantul bekerja sama dengan Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) dan Institut Seni Indonesia (ISI) menggelar

Close