‘Iedul Fitri


Oleh : Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M. Si.

HARI Raya Iedul Fitri atau populer juga dengan sebutan Lebaran atau Badan besuk pagi adalah hari yang penuh kebahagiaan dan kemenangan yang tidak asing bagi kaum muslimin di seluruh penjuru dunia. Hari yang penuh suka cita, di mana kaum muslimin dibolehkan kembali makan, minum, dan hubungan suami istri di siang hari setelah satu bulan penuh berpuasa dari hal-hal itui. Kata “Ied” menurut bahasa Arab menunjukkan sesuatu yang kembali berulang-ulang, baik dari sisi waktu atau tempatnya. Dinamakan “Al-‘Ied” karena pada hari tersebut Allah memiliki berbagai macam kebaikan yang diberikan kembali untuk hamba-hamba-Nya, yaitu bolehnya makan, minum, dan hubungan suami istri setelah sebulan dilarang darinya, zakat fithri, lanjut dengan penyempurnaan haji dengan thawaf, penyembelihan daging kurban, dan lain sebagainya. Dan terdapat kebahagiaan, kegembiraan, dan semangat baru dengan berulangnya berbagai kebaikan ini. Dari Abu Hurairoh RA berkata: “Bahwasanya Nabi shallallahu’alaihi wa sallam telah bersabda: ‘Puasa itu adalah hari di mana kalian berpuasa, dan (’Iedul) Fitri adalah hari di mana kamu sekalian berbuka.” (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud).

Perayaan Hari Raya ‘Iedul Fitri merupakan salah satu bentuk ibadah mahdhah kepada Allah SWT. Dan ibadah mahdhah tidak terlepas dari dua hal; yaitu: ikhlas ditujukan hanya untuk Allah semata dan Sesuai dengan tuntunan Rasulullah Muhammad SAW. Ada beberapa hal yang dituntunkan terkait dengan pelaksanaan Hari Raya ‘Iedul Fitri, di antaranya; Pertama, mandi sebelum Shalat ‘Ied Fitri. Disunnahkan bersuci dengan mandi untuk Hari Raya ‘Iedul Fitri karena hari itu adalah tempat berkumpulnya manusia untuk shalat dan mendengarkan khutbah ‘Ied. Namun, apabila hanya berwudhu saja, itu pun sah dan telah mencukupi. Dari Nafi’, bahwasanya Ibnu Umar mandi pada saat ‘Iedul fitri sebelum pergi ke tanah lapang untuk sholat (HR. Malik). Kedua, makan di Hari Raya ‘Iedul Fitri sebelum berangkat ke tempat shalat. Hal ini berdasarkan hadits dari Buraidah, bahwa beliau berkata: “Rosululloh dahulu tidak keluar (berangkat) pada saat ‘Iedul Fitri sampai beliau makan dan pada Iedul Adha tidak makan sampai beliau kembali, lalu beliau makan dari sembelihan kurbannya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Ketiga, memperindah (berhias) diri pada Hari Raya ‘Iedul Fitri. Dalam suatu hadits, dijelaskan bahwa Umar RA pernah menawarkan jubah sutra kepada Rasulullah SAW agar dipakai untuk berhias dengan baju tersebut di Hari Raya dan untuk menemui utusan yang datang menghadapnya. Rasulullah SAW tidak mengingkari apa yang ada dalam persepsi Umar RA, yaitu bahwa saat Hari Raya ‘Iedul Fitri dianjurkan berhias dengan pakaian terbaik, hal ini menunjukkan tentang sunnahnya hal tersebut. Perlu diingat, anjuran berhias saat Hari Raya ini tidak menjadikan seseorang boleh melanggar yang telah diharamkan oleh Allah SWT; di antaranya larangan memakai pakaian sutra bagi laki-laki, emas bagi laki-laki, dan minyak wangi bagi kaum wanita. Dan yang perlu dicatat, pakaian baru bukanlah suatu persyaratan, artinya tidak harus berhias dengan pakaian yang serba baru, tetapi yang penting adalah dengan berpakain yang bersih dan sesuai dengan tuntunan agama.

Keempat, berbeda jalan antara berangkat ke tanah lapang (tempat Shalat ‘Iedul Fitri dilaksanakan) dan pulang darinya. Disunnahkan mengambil jalan yang berbeda tatkala berangkat dan pulang, berdasarkan hadits dari Jabir, beliau berkata, “Rasulullah membedakan jalan (saat berangkat dan pulang) saat ‘Iedul Fitri.” (HR. Bukhari). Hikmahnya sangat banyak di antaranya, agar dapat memberi salam pada orang yang ditemui di jalan (banyak menebarkan salam), dapat membantu memenuhi kebutuhan orang yang ditemui di jalan, dan agar syiar-syiar Islam tampak di masyarakat. Disunnahkan pula bertakbir saat berjalan menuju tanah lapang, karena sesungguhnya Nabi apabila berangkat saat ‘Iedul Fitri, beliau bertakbir hingga ke tanah lapang, dan sampai dilaksanakan shalat, jika telah selesai shalat, beliau berhenti bertakbir. Dianjurkan untuk saling mengucapkan selamat tatkala ‘Iedul Fitri dengan “taqobbalalloohu minnaa wa minkum” (Semoga Allah menerima amal kita dan amal kalian) atau dengan “a’aadahullaahu ‘alainaa wa ‘alaika bil khairat war rahmah” (Semoga Allah membalasnya bagi kita dan kalian dengan kebaikan dan rahmat). Selamat berpisah Ramadhan 1440 H yang penuh dengan keberkahan dan keridhaan-Nya , semoga kita tergolong umat yang diberi kesempatan untuk bertemu kembali bulan Ramadhan untuk tahun-tahun yang akan datang. Aamiin.

Read previous post:
ilustrasi
Rampas Uang dan HP, 4 Pelajar Todongkan Pedang

TURI (MERAPI)-Empat orang pelajar warga Turi Sleman harus berurusan dengan pihak berwajib, Senin (3/6). Kempatnya diamankan lantaran ketahuan melakukan penodongan

Close