Ramadan, Bersihkan Sifat Sengkun…

Oleh : Ustadz IIP WIJAYANTO

AKHIR-AKHIR ini di medsos, nama SENGKUNI (atau SANGKUNI) mendadak tenar. Patih SANGKUNI adalah seorang tokoh jahat (antagonis) dalam kisah MAHABHARATA yang sangat terkenal di tengah-tengah masyarakat kita. Bahkan versi tv, produksi India yang mengisahkan perang dahsyat…perang saudara Mahabharata sudah berkali-kali ditayangkan. SENGKUNI adalah raja dari sebuah kerajaan kecil yang bernama GANDHARA, yang menginduk ke kerajaan pelindung HASTINA. Dalam lakon Mahabharata, Patih SENGKUNI ini adalah tokoh sentral yang mengontrol jalan cerita. Atas kelicikannya, KERAJAAN INDRAPRASTA milik PANDAWA bisa direbut tanpa perang (melalui permainan dadu). Dan Patih SENGKUNI juga yang terus menghasut agar dua kelompok saudara, PANDAWA yang berasal dari garis keturunan PANDU dan KORAWA yang berasal dari garis keturunan DRETARASTA, berperang dalam kisah perang legendaris Mahabharata. Padahal seperti yang sudah diketahui bahwa DRETARASTA, PANDU dan WIDURA adalah bersaudara.

Apa keahlian dari Patih SENGKUNI ini…? Sudah kondang dan kesohor, bahwa ia adalah seorang PENGHASUT yang ulung. Karya hasutannya pula lah yang memicu perang hebat Mahbharata tersebut. Agaknya, banyak masyarakat yang sedih, gerah, geram melihat betapa kesucian bulan Ramadan tahun ini harus dirusak dengan aksi demo politik yang seperti kita ketahui bersama juga banyak memakan korban. Tentu masyarakat sudah cerdas, melek politik meski bukan politikus karena setiap hari diberi suplemen berbagai acara debat politik. Juga sudah berkali-kali melewati proses pemilu pasca reformasi yang sebelumnya berjalan baik-baik saja, damai-damai saja. Yang menang menghormati yang kalah. Dan yang kalah-pun menghargai yang menang. Jika ada ekses tarik menarik, itu hal yang lumrah dan wajar. Yang disayangkan adalah kisruh di kalangan elit politik dan rakyat yang kembali menjadi korban. Maka atas dasar itulah kemudian nama Patih SENGKUNI mendadak ramai dibicarakan. Karena masyarakat bisa merasakan ada kerja-kerja ala SENGKUNI yang berusaha menolak aturan main yang sudah disepakati bersama sebelum pesta demokrasi ini digelar.

Di dalam ISLAM, sifat HASUT adalah sifat yang sangat tercela. Pemicunya adalah sifat iri dan dengki. Di dalam Al-Qur’an , surat An-Nisa: 32. Kita dilarang memeilihara sifat iri dan dengki ini. Iri melihat orang menang. Iri melihat orang memiliki jabatan. Karena semua yang Allah karuniakan dalam bentuk jabatan, kekayaan, kemuliaan dst sesungguhnya adalah titipan. Jika titipan itu digunakan dengan baik, akan mengantarkan ke surga dan sebaliknya. Nah, orang-orang yang ibadah puasanya berhasil adalah orang-orang yang berhasil menundukkan potensi sifat iri dengki di dalam dirinya ini. Jika berpuasa, tapi tetap saja iri dengan orang lain…itu menunjukkan bahwa yang bersangkutan ibadah puasanya belum berhasil. Wallahu A’lamu bishawwab.

Read previous post:
Mudik Lebaran, Peserta BPJS Tetap Dijamin

SLEMAN (MERAPI) - Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan tetap akan menjamin bagi peserta Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN~KIS)

Close