Syahrul Quran



Oleh : Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M. Si.


RAMADHAN merupakan bulan yang penuh dengan keberkahan dan kemulyaan. Keberkahan terbesar yang dimilikinya dan bermanfaat sepanjang masa adalah peristiwa diturunkannya Kitab Suci Alquran. Allah SWT berfirman, “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185). Allah juga berfirman: “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan Sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan.” (QS. Ad-Dukhan: 3-4). Dalam ayat lain Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Alquran) pada malam qadar/kemulyaan.” (QS. Al-Qadar: 1). Maka, jelaslah bahwa peristiwa awal turunnya Alquran adalah pada bulan Ramadhan sehingga dijuluki dengan Syahrul Quran (Bulan Alquran). Selain itu, pada bulan Ramadhan Nabi Muhammad SAW selalu bertadarus, ber-muraja’ah hafalan dan ber-talaqqi Alquran dengan Jibril AS. Lantas bagaimana seharusnya seorang muslim berinteraksi dengan Alquran?

Banyak hal yang dapat dilakukan seorang muslim untuk berinteraksi dengan Alquran, di antaranya: Pertama, memperbanyak membaca atau tadarus Alquran. Hendaklah seorang muslim membaca Alquran setiap harinya di bulan Ramadhan secara rutin, syukur tiap hari bisa membaca satu juz atau lebih. Ironisnya, kita mampu bersosmed ria, membaca novel, komik, koran dan majalah selama berjam-jam dalam sehari, bahkan dapat menghabiskan bacaannya itu selama dua atau tiga hari, namun tidak mampu menyisihkan sebagian waktunya untuk membaca Alquran. Padahal membaca Alquran merupakan ibadah dan mendapat pahala, berbeda dengan bacaan-bacaan yang lain. Kedua, memahami makna dan men-tadabburi ayat-ayat Alquran, dengan cara membaca terjemahan dan tafsir Alquran, baik secara perkata maupun ayat-per-ayat. Mentadabburi kisah-kisah dalam Alquran agar menjadi ibrah dan dapat diambil manfaatnya sebagai cermin kehidupan kita saat ini, dan untuk masa-masa yang akan datang.

Ketiga, menghafal Alquran. Minimal surat-surat pendek dan surat-surat penting lainnya yang sering dibaca dalam shalat tiap hari. Para ulama shalafus shalih mampu menghafal Alquran dalam usia anak-anak. Misal, Imam Syafi’i hafal Alquran pada umur 7 tahun. Itulah modal kesuksesan mereka di dunia dan di akhirat, sehingga mengantarkan mereka menjadi seorang ulama dan menjadi hamba Allah yang bertakwa. Sangat disayangkan, jika kita mampu menghafal lagu-lagu, namun kita tidak mampu menghafal Alquran, walaupun beberapa surat. Bahkan kita merasa tenang dan terhibur dengan lagu dan musik, namun kita tidak merasa tenang dengan membaca dan mendengar Alquran, padahal Allah berfirman: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28).

Keempat, mempelajari Alquran untk dijadikan petunjuk hidup. Sebagai petunjuk hidup manusia, Alquran (dan Hadits Nabi) mengajarkan kepada kita berbagai aturan hukum dalam segala aspek kehidupan. Begitu pula Alquran mengajarkan berbagai disiplin ilmu dan adab yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri, orang lain, lingkunganya, dan Tuhannya. Tujuannya, agar mendatangkan kemaslahatan dan menolak kemudharatan bagi kehidupan manusia. Oleh karenanya, orang yang beriman untuk bisa hidup yang selamat dunia akhiratnya, harus berpegang teguh kepada Alquran dan Hadits Nabi, sebagaimana Sabda Rasulullah Muhammad SAW: ‟Wahai umat manusia, sesungguhnya aku telah meninggalkan bagi kalian apa-apa yang jika kalian berpegang teguh pada keduanya, maka tidak akan tersesat selama-lamanya yaitu Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi).

Read previous post:
Kebutuhan Uang Pecahan Baru Lebaran Solo Raya Rp 5,4 T

SUKOHARJO (MERAPI) - Kebutuhan uang pecahan baru selama Lebaran 2019 untuk wilayah Solo Raya diprediksi sekitar Rp 5,4 triliun. Kebutuhan

Close