Syahrul Tarbiyah


Oleh : Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M. Si.

BULAN Ramadhan yang kini sedang kita jalani beberapa hari, di samping dikenal sebagai Syahrul Ijabah, Syahrul Ibadah, Syahrul Maghfirah, juga dikenal sebagai Syahrul Tarbiyah (Bulan Pendidikan). Sudah barangtentu, pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan yang sesuai dengan arahan dari Sang Pencipta Allah SWT, dan Nabi Yang Mulia Muhammad SAW. Bulan Ramadhan Allah SWT mendidik umat Islam untuk menjadi pribadi yang tangguh secara langsung melalui ibadah puasa. Pada bulan Ramadhan itu pula untuk yang pertama kali Al-Qur’an diturunkan sebagaimana firman-Nya: “Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Kitab Suci Al-Qur’an, petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)” (QS. Al Baqarah: 185). Rasulullah Muhammad SAW juga melakukan murajaah Al-Quran bersama Malaikat Jibril, dan aktivitas para sahabat dalam menuntut ilmu mengalami peningkatan yang sangat pesat.

Secara umum ada empat kecerdasan yang dididik, dibimbing, dibina, dan dilatihkan melalui puasa Ramadhan: Pertama, kecerdasan intelektual. Dalam Ramadhan ini, kita biasanya melakukan kegiatan atau mendengar ceramah, kajian-kajian tentang ilmu agama, training (pelatihan) guna meningkatkan khazanah pengetahuan Islam yang semua ini merupakan satu aspek pembentukan kecerdasan intelektual. Keutamaan thalabul ‘ilmi (menuntut ilmu), khususnya ilmu-ilmu agama dalam bulan Ramadhan yang merupakan syahrut tarbiyah ini, di antaranya: Allah SWT akan meninggikan derajat orang yang berilmu sebagaimana firman-Nya, “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah:11), dan menuntut ilmu memudahkan masuk surga. Sabda Rasulullah SAW; “Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya ke surga.” (HR. Muslim).

Kedua, kecerdasan emosional. Puasa di Bulan Suci Ramadhan ini merupakan momentum istimewa untuk mengembangkan kesadaran hati sebagai kesadaran tertinggi, seperti halnya menahan amarah, mengurangi fitnah, tidak munafik, dengki, khianat, iri hati, sombong, angkuh, dan begitu banyak sikap lain yang dilatih untuk membentuk kecerdasan emosional melalui Ramadhan ini. Ketiga, kecerdasan sosial. Dalam bulan puasa kita dilatih untuk merasakan penderitaan lapar dan dahaga yang lazimnya dialami oleh kaum fakir dan miskin. Dengan upaya ini diharapkan tumbuh empati terhadap penderitaan kaum fakir dan miskin tersebut dan mendorong kita memberikan infak, sedekah, dan menunaikan zakat, baik zakat mal maupun zakat fitrah. Itu semua menuntun agar terbentuk kecerdasan sosail pada pribadi kita sebagai hamba Allah yang taat dan beriman.

Keempat, kecerdasan spiritual yaitu kecerdasaan dan kemampuan seseorang menyerap inspirasi, ide, taufik, hidayah, simbol-simbol, dan memunculkannya dalam bentuk penemuan-penemuan baru. Lazimnya dalam bulan Ramadhan kita selalu berupaya meningkatkan ketaatan dan ketakwaan kepada Allah, yaitu dengan memperbanyak dzikir, melakukan shalat Tarawih dan Witir selain shalat wajib, membaca Al-Quran dan kegiatan lainnya yang substansinya adalah mendidik agar terbentuk kecerdasan spiritual. Oleh karena itu, ibadah Ramadhan yang kita laksanakan harus dipahami sebagai suatu rangkaian ibadah untuk meningkatkan empat aspek kecerdasan manusia yang tujuannya adalah untuk meningkatkan iman dan ketakwaan kepada Allah SWT. Keempat aspek kecerdasan manusia ini, sejatinya yang dimiliki oleh para Nabi, Rasul, Ulama, Syuhada, dan para ilmuwan, serta penemu di masa-masa keemasan Islam saat itu. Dan kita semua dituntut untuk meraihnya di bulan Ramadhan yang penuh dengan rahmah dan penuh keberkahan ini. Semoga!

Read previous post:
Ngabuburich di The Rich Jogja Hotel

BULAN Ramadan adalah bulan yang dirindukan bagi umat muslim setiap tahunnya. Bulan dimana para umat muslim melaksanakan ibadah puasa selama

Close