SYAJA’AH

SYAJA’AH dalam bahasa Arab artinya keberanian atau keperwiraan, yaitu seseorang yang dapat bersabar terhadap sesuatu yang menimpanya, keberanian menerima musibah atau keberanian dalam mengerjakan sesuatu. Pada diri seorang pengecut sukar didapatkan sikap sabar dan berani. Selain itu Syaja’ah (berani) bukanlah semata-mata berani berkelahi di medan laga, melainkan suatu sikap mental seseorang, dapat menguasai jiwanya dan berbuat menurut semestinya. Syaja’ah bukannya sifat yang tidak pernah takut, tetapi syaja’ah adalah sifat yang dapat mengatasi rasa takut. Dengan sifat ini rasa takut itu dapat dikendalikan dan bahaya dari hal yang ditakuti itu dapat diperkecil atau dihindari. Oleh karena itu orang yang mempunyai sifat syaja’ah memiliki ketenangan hati dan kemampuan mengolah sesuatu dengan pikiran tenang. Segala persoalan yang datang akan dihadapi dengan penuh ketelitian, kesabaran, dan tidak pernah takut atas segala resiko yang akan dihadapinya.

Perwujudan sikap asy-syaja’ah dalam kehidupan sehari-hari sangat banyak, terlebih dalam konteks perjuangan dakwah dan pencerahan masyarakat yang memang permasalahan i saling terkait antara yang satu dengan yang lain. Pertama, quwwatul ihtimal (memiliki daya tahan yang besar). Seseorang dapat dikatakan benar-benar memiliki sifat berani jika ia memiliki daya tahan yang besar dalam menghadapi kesulitan, penderitaan, bahaya, dan mungkin saja penyiksaan, karena ia berada di jalan Allah Ta’ala. Kisah perjuangan para nabi dan para sahabatnya di Makkah menggambarkan hal ini. Perhatikanlah bagaimana mereka terus bertahan dalam suasana tekanan yang luar biasa dari kaum Quraisy. Hingga sebagian mereka gugur syahid—seperti Sumayyah dan Yasir, sebagiannya lagi mengalami penyiksaan—seperti Bilal dan Amr bin Yasir, dan sebagian dari mereka harus rela berhijrah meninggalkan tanah airnya menuju Habasyah demi mempertahankan iman dan mengembangkan dakwah.

Kedua, as-sharahah fil haq (berterus terang dalam menyampaikan kebenaran). Rasulullah SAW bersabda: “Katakan kebenaran, sekalipun itu pahit” (HR. Imam Baihaqi dalam Syu’abul Iman, No. 4737). Keterus terangan dalam menyampaikan kebenaran adalah indikasi keberanian. Bahkan berkata benar di hadapan penguasa yang zhalim disebut oleh Rasulullah SAW sebagai jihad yang paling afdhal (utama), dan orang yang dibunuh karenanya disebut sebagai syuhada. “Penghulu para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthallib dan orang yang berdiri di hadapan penguasa zhalim lalu ia menyuruhnya (berbuat ma’ruf) dan melarangnya (berbuat munkar), lalu pemimpin itu membunuhnya.” (Hadits Shahih dalam Mustadrak ‘ala shahihain, Imam Al Hakim no. 4884). Keteguhan iman akan melahirkan sifat syaja’ah.

Ketiga, kitmanu as–sirri (memegang rahasia). Kerahasiaan—terlebih lagi dalam konteks perjuangan—adalah sesuatu yang berat dan beresiko tinggi. Terbongkarnya rahasia dapat berakibat fatal. Oleh karena itu kesiapan memegang rahasia menjadi indikasi syaja’ah seorang muslim pejuang. Di kalangan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang dipercaya memegang rahasia tidaklah banyak. Diantaranya adalah Huzaifah ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat Nabi yang dikenal dengan sebutan Shahibus Sirri (pemegang rahasia). Keempat, al ‘itirafu bil khatha’i (mengakui kesalahan). Mengakui kesalahan adalah ciri pribadi yang berani. Sebaliknya, sikap tidak mau mengakui kesalahan, mencari kambing hitam atau bersikap “lempar batu, sembunyi tangan”, adalah ciri pribadi yang pengecut. Mengakui kesalahan memang tidaklah mudah. Kadang ada rasa malu, takut dikucilkan, atau cemas akan pandangan sinis orang lain karena kesalahan yang diperbuat. Padahal mengakui kesalahan diri sendiri sangat menguntungkan. Sebab ia bisa melihat kesalahan diri dan segera memperbaikinya. Semoga Allah senantiasa menanamkan sikap syaja’ah (keberanian) pada hati orang-orang yang beriman dan bertakwa, sehingga segala persoalan akan dilihatnya dengan hati yang jernih dan penuh kehati-hatian. Semoga!

Read previous post:
Pemilih PSU di Bantul 3.093 Orang

BANTUL (MERAPI) - Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Bantul menyatakan data pemilih yang bisa mengikuti pemungutan suara ulang (PSU) di 11

Close