Musyawarah

BEGITU pentingnya masalah musyawarah dalam pandangan Islam sehingga satu di antara 114 surat dalam Al-quran bernama “Assyura” yang artinya musyawarah. Firman Allah SWT : “Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampun untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.” (QS Ali Imran,3:159).

Maksud dari ayat ini adalah dalam menghadapi setiap permasalahan supaya senantiasa berlaku lemah lembut dan tidak bersikap keras serta berhati kasar yang dapat menyakiti orang lain, karena menyakiti orang lain dalam Islam adalah dosa dan tidak diperbolehkan. Ayat ini juga menjelaskan sebaiknya dalam menyelesaikan setiap masalah kita harus mengutamakan untuk melakukan musyawarah, sehingga dapat ditemukan “win win solution”, bukan “win lost solution”, apalagi “lost lost solution.”

Agar musyawarah yang diselenggarakan itu mendapatkan hasil keputusan terbaik dan mendapat ridha Allah SWT maka setiap kita mesti memahami kaidah dalam bermusyawarah sebagaimana terangkum dalam QS Ali Imran, 3: 159; yakni: Pertama, bersikap lemah lembut. Dalam bermusyawarah harus dapat bersikap lemah lembut, baik dalam sikap, ucapan dan tindakan, penuh dengan empati dan menghargai semua lawan bicara. Kelemahlembutan inilah yang akan menghantarkan musyawarah kepada hasil yang maksimal. Kedua, mudah memberi maaf. Sikap ini harus dimiliki dalam bermusyawarah, sehingga akan berjalan dengan baik dan saling berlapang dada. Jika masing-masing orang yang bermusyawarah diliputi kekeruhan hati, marah, rasa ingin menyerang lawan bicara dan sebagainya, akan menjadikan musyawarah tidak produktif dan cenderung melelahkan pesertanya.

Ketiga, membangun hubungan yang kuat dengan Allah melalui permohonan ampun. Dalam musyawarah dimungkinkan terjadi kesalahan, baik yang disadari maupun tidak, Rasulullah SAW mengajarkan doa kafaratul majelis sebagai penutup musyawarah. “Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ilahailla anta astaghfiruka wa’atubu ilaik” (Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu). (HR Tirmidzi). Keempat, membulatkan tekad. Sudah semestinya peserta musyawarah membulatkan tekad dalam mengambil suatu keputusan yang disepakati bersama (mufakat), bukan saling ingin menang sendiri tanpa ada keputusan. Dan, jika suatu keputusan harus diputuskan melalui voting maka setiap peserta musyawarah hendaknya dapat menerima hasilnya dengan lapang dada, dan hasil keputusan itu mengikat semua peserta musyawarah, baik yang menyetujui maupun menolak ketika mekanisme voting berlangsung.

Kelima, bertawakal kepada Allah. Setelah bermusyawarah semestinya keputusan yang telah diambil, baik secara mufakat maupun voting, hasilnya diserahkan sepenuhnya kepada Allah karena Dialah yang menentukan segala sesuatu itu. Manusia yang merencanakan dan memutuskan sesuatu permasalahan secara musyawarah, tetapi kita harus tetap yakin bahwa keputusan Allah yang akan terjadi dan hal itu adalah sesuatu yang terbaik. Semoga Allah membimbing kita dan para pengelola bangsa dalam bermusyawarah agar tercipta ketenangan, keharmonisan, dan hasil yang terbaik dalam upaya membangun bangsa menuju kehidupan yang lebih baik dan bermartabat. Aamiin. (*)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
55 Desa di Gunungkidul Ditarget Tangguh Bencana

WONOSARI (MERAPI) – Upaya meminimalisir korban bencana alam di Kabupaten Gunungkidul terus dilakukan, di antaranya dengann melakukan pengkukuhan desa tangguh

Close