Demokrasi Tanpa Anarki

image description

“Innallah ma’a shobirin (Sungguh Allah bersama orang-orang yang sabar).” {Al-Baqarah: 153}

SANGAT memprihatinkan, 20 tahun pasca reformasi…dan ini adalah pemilu legislatif ke lima yang diselenggarakan setelah bergulirnya reformasi, dan pemilu presiden keempat, dengan format pemilihan langsung, dan kita masih disuguhi adegan anarkisme, penyerangan, bentrok dan provokasi. Seharusnya, pengalaman panjang selama 20 tahun ini telah membuat kita semakin matang dan dewasa dalam berdemokrasi. Bahwa ketika kita menyepakati pilihan konsep berdemokrasi, maka kita juga harus belajar untuk menerima perbedaan pendapat, sikap dan pilihan. Perbedaan itu adalah sesuatu yang halal dan memang diwadahi dalam konsep demokrasi itu sendiri.

Waktu 20 tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk belajar. Bagaimana para senior yang sudah kenyang makan asam garam demokrasi dapat menjadi peredam untuk menjaga sumbu para juniornya agar tidak tersulut. Dan memberikan pemahaman, bahwa demokrasi itu adalah ajang berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khoirot). Yang diadu adalah visi dan konsep, yang diturunkan dalam wujud program-program kerja yang menguntungkan ummat. Bukan mengadu otot. Jika waktu 20 tahun belum cukup untuk membuat kita lebih dewasa, maka berapa puluh tahun lagi waktu yang dibutuhkan untuk mencapai itu semua.

Kita berharap, dalam sisa waktu kampanye pileg dan pilpres 2019 ini, semua pihak bisa menahan diri. Bahwa, ummat dengan perjalanan panjang ini tentunya sudah jauh lebih matang dalam menentukan pilihan. Bahwa anarki (kekerasan) tidak justru membuat mereka respek untuk menjatuhkan pilihannya. Sikap yang ramah, lembut, dan dialogis akan jauh lebih mudah mengundang simpati daripada karakter politik yang sangar dan arogan. Tetapi anehnya, justru para praktisi politik justru menganggap bahwa karakter yang sangar ini sebagai sesuatu yang prestise. Coba kita gunakan logika, jika setiap ada perhelatan selalu diwarnai dengan bentrokan justru membuat masyarakat menjadi takut. Bahkan sudah biasa dilakukan, masyarakat terus memantau jadwal kampanye. Bukan untuk menghadiri. Tetapi justru untuk menghindari.
Masyarakat yang mau memanfaatkan jalan menuju tempat mencari nafkahnya menjadi terhalang dan ketakutan. Di dalam sebuah bangunan demokrasi, adanya kutub-kutub kekuatan politik adalah sesuatu yang wajar. Tetapi justru perbedaan itu seharusnya membuat kita semakin dekat dan saling menghormati. Yang merasa mayoritas, melindungi yang jumlahnya lebih sedikit. Agar momentum pesta demokrasi itu memberikan kegembiraan bagi seluruh lapisan masyarakat. Wallahu A’lamu bishawwab. (*)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
ilustrasi
Jenitri Dipanen Orang Lain, Rugi Rp 50 Juta

KEBUMEN (MERAPI) - Kerja keras, ketelatenan, dan biaya yang cukup besar untuk merawat pohon jenitri, tidak bisa dinikmati Salimun (40)

Close