Perceraian dan Stress Ekonomi

KITA melihat debat capres di televisi. Pada satu sisi calon incumbent berusaha menunjukkan bahwa rakyat sudah makmur dan bahagia. Dan calon penantang berusaha menunjukkan bahwa apa yang disampaikan itu hanya permainan angka-angka statistik saja. Di dalam koridor demokrasi, ini sesuatu yang sah-sah saja dilakukan. Tapi parameternya tetaplah kembali kepada apa yang dirasakan oleh rakyat itu sendiri.

Sebenarnya tolak ukur yang lebih jujur, dapat dilihat dari sudut pandang yang lain. Indikator sebuah masyarakat yang bahagia dan makmur dapat dilihat dari angka perceraian yang terjadi di tengah-tengah masyarakat kita. Pemerintahan dapat disebut telah memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya, jika mampu menekan perceraian hingga ke angka yang minimal. Atau jika pun pahit-pahitnya tetap ada perceraian…bukan dipicu oleh persoalan ekonomi.

Data yang banyak dipresentasikan di berbagai website, menunjukkan bahwa pada tahun 2014 telah terjadi 344.237 perceraian. Di tahun 2016 meningkat 3%, menjadi 365.633 perceraian. Dan alasan utama terjadinya perceraian adalah karena masalah goyahnya ekonomi keluarga. Pertanyaan yang layak diajukan, bagaimana dengan kinerja dakwah dalam mencegah maraknya perceraian?

Hadist yang berbunyi: “Wanita mana saja yang minta cerai pada suaminya tanpa sebab, maka haram baginya bau surge.” {H.R.Abu Dawud}

…ini banyak disampaikan di dalam majlis-majlis ta’lim. Artinya kinerja dakwah cukup baik. Prinsip ini diketahui oleh semua pelaku pernikahan. Tetapi faktanya, meski tahu…perceraian tetap saja terjadi. Karena apa…? Pertengkaran yang terjadi terus menerus, daya tahan sabar yang terus tereduksi seiring dengan merosotnya kemampuan finansial di dalam mempertahankan rumah tangga.

Membangun mahligai rumah tangga tentu membutuhkan biaya yang cukup besar. Apalagi jika dalam rumah tangga itu sudah hadir anak-anak, sehingga kebutuhan-pun menjadi berlipat ganda. Banyak wanita, yang memilih opsi kembali ke dalam tanggung jawab orang tuanya karena tidak sanggup menahan beban hidup tanpa ditopang fasilitas yang memadai. Bisa jadi suami menganggur karena lahan kerja semakin sempit. Atau bekerja, tapi gaji tidak mencukupi karena harga-harga kebutuhan yang naik. Kita berharap, semoga perceraian dapat ditekan jumlahnya. Dan salah satu syarat terpenting adalah meningkatkan ekonomi rakyat. Pendapatan meningkat. Dan harga jual produk menurun. Jika tidak, tren perceraian akan terus menjadi PR besar. Wallahu A’lamu bishawwab

.

Read previous post:
ilustrasi
Siswa Melawan Guru

HEBOH siswa SMK mendorong gurunya yang sempat viral di media sosial (medsos), sesungguhnya bisa menjadi cermin bagi masyarakat kita. Betapa

Close