Muhasabah

MUHASABAH berasal dari kata hasibah yang artinya menghisab atau menghitung. Dalam penggunaan katanya, muhasabah diidentikkan dengan menilai diri sendiri atau mengevaluasi diri, ngulat sariro atau introspeksi diri. Firman Allah dalam QS Al-Hasyr (59) : 18 secara tersirat memberikan perintah untuk senantiasa melakukan muhasabah supaya hari esok akan lebih baik. “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiapb diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” Hari berganti hari, demikian juga dengan bulan dan tahun. Beberapa hari lagi kita tinggalkan tahun 2018 menuju tahun baru 2019 dengan penuh harapan di tahun baru akan lebih baik.

Kalau kita memperhatian pergantian waktu ini, sesungguhnya kehidupan dunia makin lama makin menjauh sedang pada kesempatan yang sama kehidupan akhirat makin mendekat. Itulah perlunya muhasabah, supaya masa depan kita (akhirat) lebh baik dari masa sekarang (dunia), sebagaimana pesan QS Ad-Duhaa (93) : 4: “Dan sesungguhnya hari kemudian tu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan)”.

Orang yang beriman harus melakukan muhasabah pada keseluruhan aspek hidupnya, baik yang berhubungan dengan Allah (ubudiyah) maupun hubungan dengan sesama manusia (muamalah) yang mengandung nilai ibadah, sebagaimana Firman-Nya : “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” {QS. Adz-Dzariyat (51): 56}. Aspek-aspek tersebut diantaranya adalah: Pertama, aspek Ibadah yang berhubungan dengan Allah; yang di dalam pelaksanaannya harus sesuai dengan ketentuan dalam Al-Quran dan Rosul-Nya. Dalam hal ini Rasulluh SAW telah bersabda : “Apabila ada sesuatu urusan duniamu, maka kamu lebih mengetahui. Dan apabila ada urusan agamamu, maka rujuklah kepadaku “.(HR. Ahmad). (2) aspek pekerjaan dan perolehan rizki yang sering dilupakan bahkan ditinggalkan dan ditakpedulikan.

Karena aspek ini diangggap semata-mata urusan duniawi yang tidak memberikan pengaruh pada aspek ukhrawinya. Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda: “Tidak akan bergerak telapak kaki ibnu Adam pada hari kiamat, hingga ia ditanya tentang 5 perkara; umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanya kemana dipergunakannya, hartanya darimana ia memperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, dan ilmunya sejauh mana pengamalannya.”(HR. Turmudzi).

Adapun muhasabah yang ketiga adalah aspek kehidupan sosial, dalam artian hubungan muamalah, akhlak dan adab dengan sesama manusia. Karena kenyataannya aspek ini juga sangat penting sebagaimana yang digambarkan Rasulullah saw : “Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun ia juga datang dengan membawa (dosa), menuduh, mencela, memakan harta orang lain, memukul (mengintimidasi) orang lain. Maka orang-orang tersebut diberikan pahala kebaikan-kebaikan dirinya. Hingga manakala pahala kebaikannya telah habis, sebelum tertunaikan kewajibannya, diambillah dosa-dosa mereka dan dicampakkan pada dirinya, lalu dia pun dicampakkan ke dalam api neraka” (HR Muslim).

Dan yang terakhir adalah aspek dakwah, yang menyangkut dakwah dalam segala aspek; sosial, politik, ekonomi, dan juga substansi dari dakwah itu sendiri mengajak orang pada kebersihan jiwa, akhlaqul karimah,memakmurkan masjid, menyempurnakan ibadah, mengikhlaskan kepasrahan abadi pada ilahi,banyak istighfar serta taubat dan sebagainya. ***

Pin It on Pinterest

Read previous post:
PENGEMBARAAN AKHIR TAHUN 2018 – Pramuka Sleman Kenang HB IX

SLEMAN (MERAPI) - Sebanyak 677 anggota Pramuka Kwartir Cabang Kabupaten Sleman, mengenang jasa Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) IX yang

Close