Mengapa Kita Wajib Melawan Suap?

DERITA yang masih harus dirasakan oleh sebagian kita pada saat ini, sesungguhnya adalah warisan kebijakan sejak zaman penjajahan VOC ratusan tahun yg lalu. Seperti yang kita pelajari dari sejarah dan sudah ketahui bersama bahwa kekayaan alam kita berupa rempah-rempah dieksploitasi sedemikian rupa, dan dikirim ke negeri Belanda. Para petani di zaman itu dipaksa menggarap lahan sesuai kebutuhan ekspor VOC, sampai tidak ada lagi ruang dan waktu tersisa untuk menanam kebutuhan pangannya sendiri. Kalaupun di zaman Daendels ada pembangunan infrastruktur…sama sekali bukan ditujukan untuk meningkatkan perekonomian saat itu, tapi murni untuk kebutuhan perang.

Pada saat ini, VOC memang sudah lama angkat kaki. Tetapi kekayaan Negara gentian mengalir ke segelitir orang, atau sekelompok orang saja. Di zaman Orde Baru…terjadi praktik KKN (Korupsi Kolusi dan Nepotisme) yang pemberantasannya…sebagai tema utama reformasi, semakin hari semakin tidak jelas saja. Jika saat itu, kekayaan Negara hanya mengalir ke segelintir kroni penguasa saja…saat ini, korupsi jauh lebih merata. Siapa saja yang memiliki uang (invest) untuk membeli jabatan, maka ia akan berusaha menangguk keuntungan ribuan kali lipat setelah jabatan berhasil dikuasai.

Dan PINTU GERBANGNYA adalah politik suap. Suara rakyat dibeli, dalam proses politik apapun. Mulai dari pemilihan lurah, pemilu legislative, pilkadan dan lain sebagainya. Fenomena “SERANGAN FAJAR” adalah fenomena yang nyaris tidak dapat dipisahkan dari kehidupan politik praktis kita. Aksi para calon, jor-joran dan membagikan amplop suap agar pemilih bersedia memilihnya…diketahui oleh semua orang, tetapi juga hanya didiamkan saja. Karena modal besar untuk membeli suara inilah, maka kemudian mereka segera bergerak melakukan korupsi massal setelah dilantik. Sekaligus nyari modal untuk mencalonkan diri kembali, agar kekuasaannya “lenggeng.”

Pertanyaannya kemudian, Rakyat dapat apa…? Yang didapatkan…rakyat harus membayar ekstra untuk semua kebutuhan. Subidi-subsidi ditarik, karena dana subsidi digunakan untuk menambal kebocoran. Inflasi tidak kunjung membaik. Harga-harga kebutuhan, meroket fantastis. Dan kembali seperti zaman VOC, yang menikmati kekayaan alam bangsa ini yang berlimpah hanya segelintir orang ditampuk kekuasaan. Dan rakyat harus kembali menderita dan menderita. Politik uang adalah sebuah perbuatan dosa yang sangat besar.

“Allah melaknat orang yang menyuap dan memberi suap.” {H.R.Ahmad}. Semoga bermanfaat.  Wallahu A’lamu bishawwab. *

Read previous post:
BABAK 8 BESAR LIGA 2 – PSS Tergabung di Grup B, Persis Tersingkir

  SLEMAN (MERAPI) - PSS Sleman harus segera bersiap menghadapi babak 8 besar Liga 2 Indonesia musim 2018. Laskar Sembada

Close